PALANGKA RAYA – Volume sampah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalteng, timbulan sampah di daerah ini mencapai sekitar 1.259 ton per hari atau setara 459 ribu ton per tahun. Peningkatan tersebut dipicu oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin tinggi di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemprov Kalteng. Melalui DLH, Pemprov Kalteng menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Lingkungan Hidup 2025, Kamis (6/11/2025) lalu.
Rakorda yang mengusung tema “Menuju Zero Waste Kalteng 2030: Transformasi Pengelolaan Sampah, Ekonomi Sirkular, dan Inovasi Teknologi” ini bertujuan untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah menuju target zero waste 2030.
Menurut Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Yuas Elko, sebagian besar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kalteng masih menggunakan sistem open dumping, yang berisiko mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.
“Setiap hari, timbulan sampah di Kalteng mencapai sekitar 1.259 ton. Sebagian besar TPA masih belum modern, sehingga diperlukan inovasi dan koordinasi lintas sektor,” ujarnya.
Yuas menjelaskan, sekitar 35,5 persen dari total komposisi sampah di Kalteng merupakan sampah organik, yang dapat diolah menjadi kompos atau biogas. Sementara sampah plastik menempati proporsi besar berikutnya dan dapat dimanfaatkan melalui bank sampah, daur ulang, serta program ekowirausaha berbasis komunitas.
Untuk memperkuat pengelolaan sampah, Pemprov Kalteng menargetkan pembangunan TPA regional berbasis teknologi ramah lingkungan, menutup lokasi open dumping, serta mengembangkan sistem sanitary landfill. Selain itu, pemprov juga tengah menyiapkan proyek waste to energy (WTE), yaitu teknologi pengolahan sampah menjadi energi alternatif. “Langkah ini mendukung kebijakan nasional dan memperkuat transisi energi bersih di Kalteng,” tambah Yuas.
Sementara itu, Kepala DLH Kalteng Joni Harta menyebut, sekitar 60 sampai 65 persen sampah di Kalteng masih didominasi sampah rumah tangga dan plastik. Sementara kemampuan pengelolaan baru mencakup sebagian kecil wilayah perkotaan. “Rakorda ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah, mengevaluasi capaian, dan mendorong inovasi berbasis teknologi serta ekonomi sirkular,” ujarnya.
Menurut Joni, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan Kalteng yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. “Kami ingin membangun paradigma baru bahwa sampah bukan beban, melainkan sumber daya ekonomi bagi masyarakat,” tutupnya. (ifa/ens)












