PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, khususnya di Kalimantan Tengah, terus dimaksimalkan.
Kondisi kebakaran yang masih fluktuatif atau naik turun membuat upaya pemadaman dan pengendalian harus terus dilakukan agar api tidak meluas dan kabut asap segera teratasi.
Penanganan karhutla sendiri membutuhkan upaya berkelanjutan.
Menurut Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, kondisi di lapangan yang belum sepenuhnya stabil menjadi alasan seluruh pihak harus tetap bekerja maksimal.
“Kita akan terus memaksimalkan upaya penanganan karhutla di Kota Palangka Raya. Kondisinya memang masih fluktuatif, naik turun. Sehingga penanganan harus terus dilakukan,” ucapnya saat diwawancarai, Minggu (10/10/2026).
Di tengah upaya pemadaman, Zainul juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla, sehingga upaya yang dilakukan petugas di lapangan harus didukung kesadaran masyarakat.
“Saya tetap berharap kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Saya juga mengajak masyarakat, melalui media untuk bersama-sama menyosialisasikan kembali agar tidak membakar lahan,” tegasnya.
Zainul menekankan, penanganan karhutla tidak seharusnya diwarnai sikap saling menyalahkan.
Sebaliknya, seluruh pihak perlu mengutamakan kerja sama agar kondisi di Kota Palangka Raya dan Kalimantan Tengah secara umum tetap kondusif, sekaligus mempercepat pengendalian kebakaran.
“Kita tidak boleh saling menyalahkan, tetapi kita harus bekerja bersama untuk menjaga situasi tetap kondusif di Palangka Raya, Kalimantan Tengah khususnya, agar kondisi bisa segera kita kendalikan,” katanya.
Upaya penanganan di lapangan sebelumnya juga dilakukan melalui peninjauan rutin oleh Pangdam XXII/Tambun Bungai di beberapa wilayah.
Beberapa waktu lalu, Pangdam bersama Asops Kasdam XXII/Tambun Bungai, Kazidam XXII/Tambun Bungai, dan Dandim 1016/Palangka Raya melihat sejumlah titik penanganan, termasuk kawasan hutan yang masih dipenuhi asap serta memiliki kondisi lahan kering dan rentan terhadap penyebaran api.
Dalam peninjauan, personel di lapangan terlihat menggunakan mesin pompa, selang, dan sarana pendukung untuk mengalirkan air ke titik-titik yang membutuhkan penanganan.
Pemantauan melalui drone juga dimanfaatkan untuk melihat kondisi wilayah dari udara, sehingga area yang memerlukan penanganan dapat diketahui lebih cepat.
Zainul berharap upaya tersebut menjadi kerja bersama agar persoalan karhutla dan kabut asap segera dapat diselesaikan. (ter)












