FeatureKotawaringin Barat

Bisa Sejajar dengan Peserta dari Seluruh Indonesia

178
×

Bisa Sejajar dengan Peserta dari Seluruh Indonesia

Sebarkan artikel ini
JUARA : Para siswa SMAN 1 Pangkalan Bun sukses meraih juara 3 Lomba Variasi Baris-Berbaris Tingkat Nasional 2026. FOTO DOKUMEN UNTUK RADAR KALTENG

Dari Lomba Variasi Baris-Berbaris Tingkat Nasional (2)

Dari podium juara 3 nasional Lomba Variasi Baris-Berbaris itu, para siswa SMAN 1 Pangkalan Bun pulang membawa satu hal yang lebih besar dari sekadar piala. Yakni keyakinan bahwa pelajar daerah pun mampu berdiri dan bersaing di tingkat nasional.

DANTON tim SMAN 1 Pangkalan Bun, Akbar Firmansyah, mengakui keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh anggota.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa meraih juara 3 nasional. Ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, latihan, dan kekompakan seluruh anggota tim,” ujar Akbar.

Bagi Akbar, tampil di panggung nasional memberikan pengalaman tersendiri. Mereka tidak hanya membawa nama sekolah, tapi juga harus menunjukkan bahwa pelajar dari daerah mampu berdiri sejajar dengan peserta dari berbagai penjuru Indonesia.

“Bisa tampil di tingkat nasional dan bersaing dengan sekolah-sekolah terbaik dari berbagai provinsi merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” akuinya.

Di tengah kebanggaan itu, Akbar menyadari ada banyak tangan yang ikut mengantarkan mereka sampai ke podium. Dukungan pembina, kepala sekolah, guru, orang tua, pelatih, serta doa dari berbagai pihak menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

“Terima kasih kepada pembina, kepala sekolah, guru, orang tua, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta doa,” tuturnya.

Bagi pembina tim, Nuning Meidiningrum, keberhasilan anak didiknya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang harus dilewati sebelum mereka mampu tampil maksimal di Jakarta.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian anak-anak yang berhasil meraih juara 3 nasional. Prestasi ini tidak diraih dengan mudah, tapi melalui latihan yang panjang, disiplin, kekompakan, evaluasi, dan komitmen seluruh anggota tim,” ungkap Nuning.

Bagi Nuning, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar piala. Baris-berbaris menjadi ruang pembelajaran bagi para pelajar untuk mengenal arti disiplin dan tanggung jawab.

Mereka belajar bahwa sebuah tim hanya dapat bergerak dengan baik apabila setiap anggotanya mampu menjalankan perannya.

“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya piala yang diperoleh, tetapi nilai-nilai yang tumbuh selama proses latihan. Anak-anak belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, konsistensi, dan pantang menyerah,” jelasnya.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian dibawa para siswa ketika berdiri di halaman Gedung MPR RI. Mereka tidak hanya membawa seragam dan atribut perlombaan.

Mereka membawa hasil latihan, semangat sekolah, serta nama daerah yang berada di belakang mereka.

Ketika nama SMAN 1 Pangkalan Bun akhirnya tercatat sebagai peraih Juara 3 Nasional, perjuangan panjang itu seakan menemukan jawabannya.

Kepala SMAN 1 Pangkalan Bun Jumrani menyebut, capaian tersebut sebagai prestasi luar biasa karena tim harus berhadapan dengan sekolah-sekolah terbaik dari berbagai daerah.

“Bersaing dengan sekolah-sekolah terbaik dari berbagai daerah dan mampu masuk tiga besar nasional merupakan pencapaian yang luar biasa. Ini menjadi kebanggaan bagi SMAN 1 Pangkalan Bun dan sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Kotawaringin Barat serta Kalimantan Tengah,” tegasnya.

Bagi sekolah, keberhasilan tersebut juga menjadi pesan bahwa kesempatan dan pembinaan yang tepat dapat membuka jalan bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka di tingkat nasional.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa anak-anak kita memiliki potensi yang besar apabila diberikan pembinaan, kesempatan, dan dukungan yang tepat,” kata Jumrani.

Kini, piala juara 3 nasional itu menjadi bagian dari catatan prestasi SMAN 1 Pangkalan Bun. Namun cerita sebenarnya bukan hanya tentang piala tersebut.

Cerita itu dimulai jauh sebelum mereka berdiri di halaman Gedung MPR RI. Dimulai dari latihan yang berulang, langkah yang harus disamakan, aba-aba yang harus ditegaskan, dan rasa lelah yang harus ditaklukkan.

Pada akhirnya, hentakan kaki para pelajar dari Pangkalan Bun tidak hanya terdengar di sebuah arena perlombaan. Hentakan itu membawa nama sekolah, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kalimantan Tengah hingga ke panggung nasional. (habis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *