Potret Tenaga Kesehatan dan Pendidikan di Pelosok dalam Semangat HUT ke-81 RI
Di tengah semangat memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, wajah kemerdekaan tidak hanya terlihat dari upacara, pengibaran bendera, atau berbagai perayaan di pusat kota. Di pelosok, kemerdekaan juga hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, ketika masyarakat tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan meski harus melewati jalan tanah, menyeberangi sungai, hingga menghadapi keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi.
BUDHI SEPRATAMA PUTRA, Palangka Raya.
DI Puskesmas Tumbang Masukih, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, hadir Santa Hotmaria Sianturi, tenaga promotor kesehatan berusia 26 tahun. Perempuan kelahiran Pekanbaru, 10 Juli 2000 itu mulai bertugas sejak Oktober 2025 sebagai pegawai Penugasan Khusus Kementerian Kesehatan.
Penempatannya di Tumbang Masukih merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat di daerah yang sangat terpencil. Santa menjadi salah satu dari 28 tenaga yang bekerja di puskesmas itu. “Bekerja di sini sangat berbeda dengan bekerja di kota, karena memiliki keterbatasan, mulai tempat tinggal, sumber air bersih, jaringan, listrik, transportasi, sampai akses jalan,” kata Santa.
Keterbatasan itu menjadi bagian dari keseharian para tenaga kesehatan. Untuk tempat tinggal, puskesmas menyediakan sekitar sembilan rumah dinas yang dapat ditempati dua hingga tiga pegawai. Karena sebagian tenaga kesehatan berasal dari luar daerah, mereka menerapkan sistem bergantian untuk tinggal di rumah dinas tersebut, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi biaya hidup di pelosok.
Santa sendiri beruntung karena rumah dinas yang ditempatinya berada tepat di sebelah puskesmas. Jarak yang dekat membuat aktivitas menuju tempat kerja tidak menjadi persoalan. Namun tantangan lain tetap hadir. Terutama listrik dan jaringan komunikasi.
Listrik di situ mengandalkan panel surya. Ketika matahari cukup terik, pasokan listrik dapat bertahan hingga 24 jam. Sebaliknya, saat musim hujan dan sinar matahari berkurang, listrik lebih cepat padam. Kondisi tersebut juga berdampak pada jaringan internet untuk menunjang aktivitas sehari-hari. “Jaringan internet kami juga menggunakan starlink, sehingga ketika listrik padam, jaringan ikut terputus,” ujarnya.
Persoalan akses transportasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak tersedia angkutan umum. Sementara puskesmas belum memiliki kendaraan khusus untuk menunjang pelayanan. Padahal wilayah kerja Puskesmas Tumbang Masukih mencakup lima desa dengan jarak tempuh sekitar 20 hingga 45 menit ke setiap desa.
Untuk mencapai desa-desa tersebut, petugas harus melewati jalan tanah kuning yang naik turun bukit dan sejumlah jembatan kayu. Pada musim kemarau, jalan berubah menjadi berdebu. Ketika hujan turun, jalur tersebut menjadi licin dan lebih sulit dilalui.
Dalam sejumlah kegiatan posyandu, Santa bahkan harus menggunakan perahu untuk mencapai desa sebelah karena jalur darat tidak memungkinkan. Dalam kondisi tertentu, ia bersama petugas lainnya menggunakan sepeda motor berboncengan demi memastikan pelayanan tetap menjangkau masyarakat. “Memang sebagai petugas kesehatan di pedalaman, kami harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada supaya pelayanan tetap bisa sampai ke masyarakat,” ungkapnya.
Tantangan tersebut terasa semakin nyata ketika Santa dan rekan-rekannya harus berjaga pada malam hari. Meski Puskesmas Tumbang Masukih merupakan fasilitas kesehatan rawat jalan, terdapat kondisi tertentu yang membuat pasien harus mendapatkan observasi sementara. Seperti korban kecelakaan, gigitan ular, maupun kecelakaan kerja.
Pasien dalam kondisi tersebut perlu distabilkan terlebih dahulu sebelum dirujuk ke rumah sakit di kabupaten. Proses rujukan pun tidak selalu mudah karena petugas harus memperhitungkan kondisi jalan. Terutama ketika hujan membuat jalur menjadi licin dan berisiko.
Dalam situasi seperti itu, tenaga kesehatan harus mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasien sekaligus keadaan perjalanan. Santa menuturkan, terkadang pasien perlu diobservasi lebih lama sembari menunggu kondisi memungkinkan melakukan rujukan. “Bekerja di sini bukan hanya tentang memberikan pelayanan kesehatan, tapi juga bagaimana kami beradaptasi dengan keterbatasan akses dan kondisi lingkungan agar pelayanan tetap bisa diberikan dengan aman,” akuinya.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, kehidupan sebagai tenaga kesehatan di pelosok juga menuntut kemampuan untuk bekerja bersama. Bahkan ketika hendak mengambil cuti, para tenaga kesehatan perlu terlebih dahulu mengatur jadwal dengan rekan kerja agar selalu ada petugas yang siaga dan pelayanan masyarakat tak terhenti.
Keinginan untuk merasakan suasana kerja di kota sesekali memang muncul dalam benak Santa. Namun pengalaman bertugas di Tumbang Masukih justru memberikan ruang baginya untuk belajar menghadapi kondisi berbeda dari perkotaan. “Sejauh ini saya masih menikmati pengalaman bekerja dan belajar banyak hal selama berada di sini,” katanya.
Bagi Santa, pengalaman bertugas di daerah yang jaraknya 6 jam dari pusat Kota Kuala Kurun bukan sekadar menjalankan pekerjaan. Ada pengalaman tentang bagaimana pelayanan kesehatan harus tetap hadir meskipun fasilitas dan akses belum sepenuhnya memadai.
Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, ia berharap pembangunan semakin merata hingga pedalaman. Ia menginginkan perbaikan jalan dan transportasi antardesa, peningkatan jaringan komunikasi dan listrik, serta perhatian yang lebih besar terhadap fasilitas kesehatan.
Santa juga berharap kesejahteraan dan dukungan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terpencil diperkuat. Menurutnya, tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan di pelosok berbeda dengan mereka yang bekerja di perkotaan sehingga dukungan yang memadai menjadi penting untuk menjaga kualitas pelayanan. “Semoga masyarakat di pedalaman juga bisa merasakan kemerdekaan mendapatkan akses dan pelayanan kesehatan yang sama seperti masyarakat di kota,” pungkasnya.
Di usia 81 tahun Indonesia, perjuangan menghadirkan kemerdekaan dalam pelayanan kesehatan masih terus berlangsung. Di jalan-jalan tanah yang licin, di balik keterbatasan listrik dan jaringan, serta di antara perjalanan menuju desa-desa yang jauh, Santa dan tenaga kesehatan lainnya menjadi bagian dari wajah Indonesia yang terus bergerak menuju pemerataan.
Kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Untuk tenaga kesehatan kemerdekaan adalah saat dimana masyarakat pelosok tetap merasa diperhatikan, dilayani, dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesehatan. (bersambung)












