Cerita Gaib di Sungai Kahayan
Sungai Kahayan bukan sekadar aliran air yang membelah Kota Palangka Raya. Di balik permukaannya yang kadang terlihat tenang, tersimpan cerita tentang pusaran air, buaya putih hingga sosok perempuan misterius yang sejak dulu menjadi bagian dari cerita masyarakat. Tenggelamnya seorang anak di Sungai Kahayan beberapa waktu lalu, kembali mengingatkan bahwa sungai ini tidak boleh dianggap remeh.
RICKY THEODORUS, Palangka Raya
MASYARAKAT sejak dulu mengenal sejumlah titik di Sungai Kahayan yang dianggap berbahaya. Salah satunya adalah pusaran air yang tak kasat mati dari permukaan air.
Bagi orang yang tidak mengenal karakter sungai, terutama anak-anak, apalagi yang tidak bisa berenang, kondisi itu bisa menjadi jebakan yang sangat mematikan.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan orang tua zaman dulu, ada orang terseret pusaran saat memancing atau berenang. Sebagian ditemukan sudah tidak bernyawa.
Namun ada pula cerita orang yang berhasil keluar dalam keadaan selamat dengan pengalaman yang sulit dijelaskan.
“Ini menandakan bahwa ada kehidupan lain di bawah air,” kata Damang Kecamatan Pahandut Wiliam Ngabe Soekah saat dibincangi di kantornya, Kamis (13/8/2026) siang.
Cerita itu dulunya sering dibicarakan di tengah masyarakat, ketika musim kemarau tiba. Saat debit air Sungai Kahayan berkurang, muncul kawasan dangkal atau yang biasa disebut gosong.
Tempat itu terlihat seperti daratan baru sehingga kerap menjadi lokasi bermain, memancing, bahkan sekadar nongkrong hingga berenang. Padahal bagian sungai di sekitarnya tetap menyimpan arus dan kedalaman yang sulit ditebak.
Kemunculan gosong jangan sampai membuat warga merasa sungai sedang aman-aman saja. “Di seputaran Jembatan Kahayan terdapat pusaran di dalam air yang tidak terlihat. Apalagi bagi anak-anak yang belum bisa berenang,” tegas Wiliam.
Di sekitar Pelabuhan Rambang atau Pahandut Seberang, juga menyimpan cerita mistis yang sudah lama beredar. Warga pernah mengisahkan suara tangisan hingga suara seperti keramaian pasar saat tengah malam.
Ada pula cerita tentang orang yang disebut melihat sebuah bayangan hitam dan perempuan misterius di sekitar dermaga tua.
Kepercayaan tersebut membuat sebagian pemancing dan warga yang beraktivitas di sungai mengenal sejumlah pantangan. Misalnya tidak berbicara takabur dan tidak sembarangan membuang sesuatu ke sungai.
Namun, seiring perubahan zaman, kepercayaan terhadap cerita semacam itu perlahan mulai berkurang. Meski begitu, kisahnya masih terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu cerita yang paling melekat adalah tentang buaya putih. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat, sosok itu bukan sekadar buaya biasa, melainkan penunggu sungai yang dipercaya bisa mengambil wujud manusia.
Dahulu kala, ketika ada orang tenggelam, masyarakat juga mengenal ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Dulu kalau ada kejadian orang tenggelam, biasanya dilakukan ritual. Tujuannya agar tidak berulah lagi atau tidak mengambil orang yang mandi di tempat tersebut,” lanjut Wiliam.
Selain buaya putih, ada pula cerita tentang pohon beringin di sekitar Jembatan Kahayan yang dipercaya memiliki penunggu.
Wiliam mengisahkan pengalaman seorang anggota bhabinkamtibmas ketika dirinya masih menjabat sebagai Lurah Pahandut Seberang. Saat berjalan pada sore hari, polisi itu melihat perempuan cantik berambut panjang hingga menjuntai ke kaki.
Perempuan itu bahkan sempat memanggilnya. Namun anehnya, ketika diperhatikan, kakinya ternyata tidak menapak tanah. “Setelah melihat itu, dia langsung lari terbirit-birit,” ungkapnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai cerita tersebut, Wiliam meminta masyarakat tidak lengah. Menurutnya, hampir setiap tahun selalu ada kejadian orang tenggelam di Sungai Kahayan.
Ia menyarankan Pemko Palangka Raya mempertimbangkan kembali pelaksanaan ritual adat “Mambaleh Bunu” yang secara tradisi dipercaya sebagai bentuk penghormatan dan menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Sebab di atas segala cerita tentang sungai, keselamatan manusia tetap harus menjadi yang utama, terlepas dari hal-hal berbau mistis atau tidaknya. (ter/ens)












