Kalimantan TengahUtama

Juli Membara, 914 Hektare Lahan Hangus

586
×

Juli Membara, 914 Hektare Lahan Hangus

Sebarkan artikel ini
KARHUTLA : Foto udara memperlihatkan hamparan lahan yang terbakar di Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, masih mengeluarkan kepulan asap, Senin (3/8/2026). BPBD UNTUK RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Grafik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah menanjak tajam. Hanya dalam satu bulan, yaitu Juli 2026, api melahap 914,39 hektare lahan. Lonjakan itu menjadikan Juli sebagai periode terburuk sepanjang tahun ini sekaligus menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla memasuki fase paling rawan seiring menguatnya musim kemarau.

Memasuki Agustus, data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPB-PK Kalimantan Tengah mencatat total luas lahan yang terbakar selama tujuh bulan pertama tahun ini telah mencapai 1.388,25 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 65,8 persen terjadi hanya sepanjang Juli, menunjukkan lonjakan yang sangat tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Peningkatan luas kebakaran sejalan dengan berlangsungnya musim kemarau yang menyebabkan vegetasi mengering dan lahan gambut semakin mudah terbakar. Kondisi ini membuat sejumlah daerah di Kalteng kembali menghadapi ancaman kebakaran dengan intensitas tinggi.

Salah satu titik yang masih menjadi perhatian berada di Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, yang berbatasan dengan Kabupaten Pulang Pisau. Kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung selama beberapa hari dan masih menyisakan asap di sejumlah titik.

Manajer Pusdalops BPBD Kota Palangka Raya Balap Sipet mengatakan, kebakaran di Kameloh Baru masih terus ditangani tim gabungan. Menurutnya, lokasi api sempat bergerak mendekati badan jalan sehingga memerlukan pengawasan ketat agar tidak meluas. “Saat ini sedang ditangani satgas,” ucapnya, Senin (3/8/2026).

Sementara Lurah Kameloh Baru Rulissantie mengungkapkan, hingga Senin (3/8/2026), luas lahan yang terdampak kebakaran di wilayahnya diperkirakan mencapai 98 hektare. Meski demikian, kebakaran dipastikan belum merambat menuju kawasan Taman Nasional Sebangau.

Ia menjelaskan, keberadaan parit dan akses jalan di sekitar lokasi menjadi sekat alami yang mampu menahan laju api. “Tidak ada, sudah di-blok oleh parit-parit dan jalan,” jelasnya.

Di Kota Palangka Raya sendiri, BPBD mencatat telah terjadi 130 kejadian karhutla sejak awal tahun dengan total luas lahan terbakar mencapai 57,89 hektare. Frekuensi kejadian yang terus bertambah mulai memunculkan kabut asap di sejumlah kawasan kota dan mengurangi jarak pandang, terutama pada pagi dan sore hari.

Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau masih berlangsung. Selain menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, pemantauan titik api terus dilakukan agar kebakaran tidak meluas hingga mengancam permukiman, fasilitas umum, maupun kawasan hutan lindung. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *