Kalimantan TengahUtama

BNPB Siagakan Dua Pesawat dan Natrium Klorida

578
×

BNPB Siagakan Dua Pesawat dan Natrium Klorida

Sebarkan artikel ini
SIAGA : Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-FPU di untuk operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah. Bahan semai natrium klorida juga dalam kondisi siap pakai di Posko OMC, Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. FOTO HUMAS BNPB UNTUK RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meningkat setiap musim kemarau membuat upaya penanganan dari udara kembali dimaksimalkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih mengoperasikan dua unit pesawat untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalteng, khususnya di Palangka Raya, guna memicu hujan di wilayah yang berpotensi maupun sudah terbakar.

Posko sekaligus pangkalan operasi OMC dipusatkan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Dari lokasi tersebut, pesawat diterbangkan menuju kawasan yang memiliki potensi pertumbuhan awan untuk dilakukan penyemaian garam (NaCl) agar peluang terjadinya hujan meningkat.

Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama BNPB Dadang Rhamdani yang mendampingi pelaksanaan OMC menjelaskan, saat ini hanya satu pesawat yang difokuskan untuk penyemaian awan. Sementara satu pesawat lainnya dialihkan untuk mendukung patroli udara memantau perkembangan karhutla.

“Benar, sekarang tinggal satu pesawat untuk OMC karena satu lagi digunakan untuk patroli. Patroli dilakukan untuk pemantauan hotspot, asap, dan area yang terbakar. Untuk posko dan pangkalan ada di Bandara Tjilik Riwut,” ucapnya kepada Radar Kalteng, Selasa (4/8/2026).

Menurut Dadang, setiap kali penerbangan, pesawat OMC mampu membawa sekitar 1.000 kilogram bahan semai berupa garam (NaCl). Material tersebut disebarkan ke awan yang memenuhi syarat agar terbentuk hujan di wilayah sasaran sebagai langkah membasahi lahan yang mulai mengering.

Data BNPB menunjukkan, sepanjang operasi pada 16-30 Juni 2026, pesawat Cessna Grand Caravan 208B registrasi PK-FPU yang dioperasikan PT Arjuna Cakrawala Perkasa telah melaksanakan 31 sortie dengan total 63 jam 18 menit penerbangan serta menyebarkan 31.000 kilogram bahan semai.

Operasi kemudian kembali dilaksanakan pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 menggunakan pesawat yang sama. Dalam periode tersebut tercatat 5 sortie, 10 jam 13 menit waktu terbang, serta penggunaan 5.000 kilogram NaCl untuk mendukung pembentukan hujan di wilayah rawan karhutla. “Saat ini pesawat diperbantukan untuk patroli pemantauan,” tambahnya.

Sementara itu, pesawat Cessna Grand Caravan 208B registrasi PK-SNG milik operator PT Makson Sukses Pratama mulai bertugas pada 31 Juli hingga 4 Agustus 2026. Hingga Selasa (4/8/2026), pesawat tersebut telah melakukan 3 sortie dengan total 7 jam 2 menit penerbangan dan menggunakan 3.000 kilogram bahan semai. Operasi masih terus berlangsung. “Sekali penerbangan, pesawat bisa membawa 1.000 kg bahan semai,” ungkap Dadang.

Secara keseluruhan, operasi udara penanganan karhutla di Kalteng telah membukukan 39 sortie, 80 jam 33 menit jam terbang, serta menghabiskan 39.000 kilogram bahan semai NaCl. Intensitas operasi akan disesuaikan kondisi cuaca dan potensi terbentuknya awan hujan.

Selain penyemaian awan, patroli udara tetap menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla. Melalui pemantauan hotspot, kepulan asap, dan luasan area terbakar secara langsung dari udara, BNPB bersama instansi terkait dapat menentukan lokasi prioritas penanganan sehingga penyebaran api di Kalteng dapat ditekan sejak dini. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *