Utama

PLN Kalselteng Target Rampung 25 Agustus

474
×

PLN Kalselteng Target Rampung 25 Agustus

Sebarkan artikel ini
PERBAIKAN : Petugas memperbaiki generator Unit 3 PLTU Asamasam, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kerusakan dua sisi generator itu menyebabkan pasokan listrik Kalselteng terganggu sehingga terjadi pemadaman bergilir di sejumlah wilayah, termasuk di Palangka Raya. FOTO HUMAS PLN UNTUK RADAR KALTENG

Pemadaman Listrik Bergilir Berlanjut, Fokus Benahi Generator PLTU

PALANGKA RAYA – Harapan masyarakat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) untuk segera terbebas dari pemadaman listrik bergilir masih harus bersabar. PT PLN (Persero) memastikan perbaikan generator Unit 3 di PLTU Asamasam belum rampung dan ditargetkan baru selesai 25 Agustus 2026.

Gangguan pada pembangkit tersebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasokan listrik di sistem interkoneksi Kalselteng. Akibatnya, pemadaman bergilir masih diberlakukan di sejumlah wilayah. Termasuk Kota Palangka Raya dan daerah lainnya di Kalteng.

Di dalam bangunan pembangkit Unit 3 PLTU Asamasam, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, proses perbaikan terus berlangsung. Sejumlah teknisi terlihat bekerja mengelilingi generator berukuran besar yang menjadi pusat kerusakan.

Sebagian teknisi melakukan pemeriksaan komponen, sementara lainnya menjalankan pengujian terhadap bagian generator yang mengalami gangguan. Area yang rusak telah dibuka agar proses perbaikan dapat dilakukan secara menyeluruh.

Senior Manager PT PLN (Persero) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Asamasam, Fajar Pamujianto, mengungkapkan kerusakan terjadi pada dua sisi generator sehingga membutuhkan penanganan secara bertahap dan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.

“Yang mengalami kerusakan itu ada di dua sisi generator. Inilah yang sedang kami kerjakan dan target penyelesaiannya pada 25 Agustus,” ucapnya dalam video penjelasan yang beredar dari lokasi PLTU Asamasam.

Fajar menjelaskan, jumlah personel yang bekerja di sekitar generator memang terlihat sedikit. Namun, kondisi tersebut bukan karena kekurangan tenaga, melainkan menyesuaikan karakter pekerjaan yang membutuhkan tingkat ketelitian dan presisi sangat tinggi.

Menurutnya, pekerjaan perbaikan berlangsung tanpa henti selama 24 jam dengan sistem tiga shift. Meski demikian, di area generator tidak diperlukan banyak pekerja secara bersamaan agar proses pengerjaan tetap aman dan akurat.

“Pekerjaan berlangsung 24 jam dengan tiga shift. Tetapi di area generator memang tidak membutuhkan banyak orang. Yang dibutuhkan adalah ketelitian dan kehati-hatian agar saat unit kembali beroperasi tidak muncul gangguan yang sama,” ungkapnya.

Fajar menambahkan, setiap tahapan perbaikan wajib melalui proses pengujian dan evaluasi sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya. “Setiap selesai satu tahap dilakukan pengujian, kemudian dievaluasi lagi. Setelah hasilnya memenuhi standar, baru dilanjutkan ke tahap berikutnya. Itu yang membuat pekerjaan tidak bisa dipercepat begitu saja,” jelasnya.

Hingga proses tersebut tuntas, masyarakat di wilayah Kalselteng masih harus menghadapi potensi pemadaman listrik bergilir.

Sementara itu, General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono sebelumnya telah menyampaikan bahwa pemadaman bukan disebabkan kekurangan pasokan energi listrik, melainkan akibat gangguan teknis pada beberapa pembangkit yang terhubung dalam Sistem Interkoneksi Kalimantan.

“Gangguan terjadi setelah generator di PLTU Asam-Asam mengalami kerusakan. Selain itu, dua unit pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) juga mengalami kebocoran pada pipa boiler dan turbin, sehingga kemampuan pasok daya ke sistem menurun,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Iwan menegaskan bahwa seluruh personel dan sumber daya terbaik telah diterjunkan untuk mempercepat perbaikan pembangkit yang mengalami gangguan. Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pemadaman bergilir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik di sebagian wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi terbatas. Untuk menjaga keamanan dan kestabilan sistem kelistrikan, PLN melakukan pengaturan beban secara terbatas dan terukur pada wilayah tertentu selama proses pemulihan berlangsung,” tuturnya.

Pemadaman bergilir sendiri memicu kritik dan keluhan dari masyarakat di berbagai daerah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami kerugian, sementara aktivitas warga juga terganggu akibat listrik yang padam berulang kali. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *