Feature

Hasil Inovasi Kelakai dan Jelei di TISIIF 2026

494
×

Hasil Inovasi Kelakai dan Jelei di TISIIF 2026

Sebarkan artikel ini
RAIH EMAS : Kezia Larasati Wijayanto dari SMAS Golden Christian School Palangka Raya turut andil dalam raihan medali emas di ajang TISIIF2026 di Pathum Thani, Thailand pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 lalu. FOTO DOKUMENTASI PRIBADI UNTUK RADAR KALTENG

Siswi SMAS Golden Christian School Ikut Andil Emas dari Thailand

Di sudut hutan Kalimantan Tengah, tumbuh tanaman yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa banyak mendapat sorotan. Daun kelakai biasa disantap sebagai sayuran, sementara biji jelei lebih akrab dijadikan aksesori pakaian adat Dayak daripada bahan pangan.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

TAK banyak yang menyangka, dua tanaman lokal itu kini menjadi bagian dari inovasi yang mengantarkan Indonesia meraih medali emas di ajang Thailand International Science, Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026 di Pathum Thani, Thailand pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Lewat produk pangan fungsional bernama Sereal STAR, tiga peneliti muda Indonesia membuktikan bahwa kekayaan hayati Kalteng memiliki potensi besar untuk menjawab persoalan kesehatan. Khususnya pencegahan stunting dan pemenuhan gizi ibu hamil serta menyusui.

Keberhasilan itu diraih oleh Jihan Khansa Adzkiya Helga dari SMA Insan Cendekia Madani, Kezia Larasati Wijayanto dari SMAS Golden Christian School Palangka Raya, dan Ekklesia Sharon Perwira Hadi dari SMAK BPK Penabur Bandar Lampung, di bawah bimbingan supervisor Arbendi I Tue.

Di tengah ratusan inovator dari berbagai negara, riset berbasis tanaman lokal Indonesia justru mampu mencuri perhatian dewan juri dan membawa pulang medali emas kategori life science.

Keunggulan Sereal STAR bukan hanya terletak pada formulanya, tapi juga pada cerita di balik bahan-bahan penyusunnya.

Kelakai, misalnya, telah lama dikenal masyarakat Kalimantan sebagai sayuran tradisional.  Tanaman rawa ini kaya akan zat besi, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan modern.

Sementara itu, jelei selama ini lebih dikenal sebagai biji yang digunakan untuk aksesori pakaian adat Dayak. Melalui penelitian tersebut, jelei mendapat wajah baru sebagai bahan pangan yang memiliki nilai tambah.

Kedua bahan lokal itu kemudian dipadukan dengan daun katuk, daun kelor, serta ekstrak protein ikan lele untuk menghasilkan pangan fungsional yang dirancang memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro.

Dalam setiap sajian seberat 20 gram, Sereal STAR mengandung sekitar 2,45 miligram zat besi alami dan 14,80 mikrogram asam folat. Formulasi tersebut disusun agar tetap memiliki biaya produksi yang rendah, sekitar Rp 2.079 per sachet, sehingga diharapkan dapat dijangkau masyarakat luas.

Bagi Jihan Khansa Adzkiya Helga, penghargaan internasional itu menjadi bukti bahwa riset berbasis potensi daerah mampu bersaing di tingkat dunia. “Sereal STAR dirancang agar tidak hanya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi secara ilmiah, tetapi juga tetap terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kezia Larasati Wijayanto menilai keberhasilan tersebut membuka mata banyak pihak bahwa kekayaan hayati Kalimantan Tengah masih menyimpan peluang besar untuk dikembangkan.

Menurutnya, selama ini jelei lebih dikenal sebagai bagian dari budaya, padahal tanaman tersebut juga memiliki potensi ilmiah dan ekonomi apabila dikembangkan menjadi bahan pangan bernilai tinggi.

Tak hanya berbicara tentang inovasi, penelitian ini juga membawa harapan bagi masyarakat di daerah asal bahan bakunya.

Apabila diproduksi secara massal, kebutuhan terhadap kelakai dan jelei berpotensi mendorong budidaya tanaman lokal, membuka peluang usaha baru bagi petani, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya hayati Kalimantan Tengah.

Meski demikian, perjalanan Sereal STAR masih panjang. Tim peneliti berharap pemerintah dapat mendukung percepatan legalitas produk, sertifikasi halal, hak paten, hingga izin edar agar inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi.

Supervisor tim, Arbendi I. Tue, berharap Sereal STAR dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan nasional. “Kami berharap Sereal STAR dapat masuk ke rantai pasok pangan nasional sehingga kekayaan alam Kalimantan Tengah benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat dan mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia yang bebas stunting,” katanya.

Di balik kilau medali emas yang diraih di Thailand, sesungguhnya ada pesan yang lebih besar. Bahwa hutan dan kekayaan hayati Indonesia bukan sekadar warisan alam, melainkan sumber solusi bagi berbagai tantangan masa depan.

Dari kelakai yang tumbuh di lahan rawa hingga jelei yang selama ini menghiasi busana adat, Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa inovasi kelas dunia dapat lahir dari akar budaya dan potensi lokal.

Ketika sains bertemu dengan kearifan daerah, tanaman yang dahulu dipandang biasa mampu mengantarkan Indonesia berdiri sejajar dengan para inovator dunia. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *