Kalimantan Tengah

Normal 5 Agustus, Tidak Ada Kepastian Mati Listrik Jilid III Berakhir

59
×

Normal 5 Agustus, Tidak Ada Kepastian Mati Listrik Jilid III Berakhir

Sebarkan artikel ini
DIWAWANCARA : Assistant Manager Perencanaan PLN, Andyka Trinovindra saat diwawancarai awak media, Kamis (30/7/26).FOTO : IFA/RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – PT PLN (Persero) menyatakan kondisi kelistrikan di Kalimantan Tengah (Kalteng) ditargetkan kembali normal mulai 5 Agustus 2026 setelah satu pembangkit besar masuk ke sistem.

Namun, belum ada kepastian bahwa mati listrik jilid III tidak akan terjadi, sebab status sistem masih dalam kondisi siaga dan cadangan daya masih terbatas.

Saat ditanya mengenai kemungkinan pemadaman kembali, PLN meminta masyarakat untuk berdoa agar pembangkit dapat beroperasi sesuai rencana.

Assistant Manager Perencanaan PLN, Andyka Trinovindra, mengatakan satu unit pembangkit besar yang dijadwalkan masuk pada 5 Agustus diharapkan mampu mengurangi tekanan pada sistem kelistrikan.

“Untuk tanggal 5 Agustus akan ada satu pembangkit besar yang sudah bisa masuk ke sistem. Kami harap itu bisa meminimalisir dan harapan kami tidak ada perlu dilakukan pemadaman kembali terkait kondisi siaga tadi,” ujarnya, Kamis (30/7/26).

Andyka menjelaskan, meski pembangkit tersebut masuk ke sistem, cadangan daya masih belum sepenuhnya aman. Sebab, masih terdapat satu pembangkit lain yang diperkirakan baru selesai diperbaiki pada akhir Agustus.

Saat ditanya apakah dengan pernyataan listrik normal pada 5 Agustus berarti tidak akan terjadi lagi pemadaman listrik jilid III, Andyka belum memberikan kepastian.

“Kita sama-sama berdoa. Jadi di tanggal 5 harapannya satu pembangkit besar masuk juga di PT SKS Listrik Kalimantan (SLK). Dengan masuknya 1 x 100 MW itu kita harapkan tidak ada pemadaman lagi,” katanya.

Sementara itu, Manajer ULP Palangka Raya Barat, Mohammad Syaeful Yusron, memastikan gangguan kelistrikan yang terjadi bukan disebabkan kekurangan sumber daya energi, melainkan akibat gangguan pada sejumlah pembangkit.

“Sama sekali tidak ada indikasi kekurangan sumber daya. Memang murni karena gangguan dari pembangkit,” tegasnya.

Yusron menyebut terdapat tiga pembangkit besar yang mengalami gangguan, yakni Tanjung Power Indonesia di Tabalong, PT SKS Listrik Kalimantan di Gunung Mas, serta PLTU Asam-Asam. Gangguan tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan daya sehingga PLN harus melakukan manajemen beban melalui pemadaman bergilir.

“Pihak distribusi tidak mengetahui secara rinci bentuk kerusakan pada pembangkit karena penanganan pembangkitan berada pada divisi berbeda. Informasi yang diterima hanya menyebut adanya gangguan pada beberapa komponen pembangkit, termasuk turbin,” pungkasnya. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *