Dari Lomba Ketangkasan Pemadam Kebakaran
Stadion Sanaman Mantikei Palangka Raya dipenuhi suara sirene, deru mesin pompa, hingga teriakan penyemangat antartim. Bukan sedang menghadapi kebakaran sungguhan, tapi lomba ketangkasan pemadam kebakaran yang menjadi ajang mengasah kemampuan menghadapi situasi darurat, khususnya kebakaran.
RICKY THEODORUS, Palangka Raya
SEBANYAK 37 tim ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Rinciannya, 32 tim putra dan lima tim putri yang berasal dari berbagai organisasi relawan pemadam kebakaran, tim rescue, hingga Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK). Mereka beradu cepat, tepat, dan kompak menyelesaikan berbagai simulasi pemadaman serta penyelamatan.
Rintangan yang disiapkan panitia dibuat menyerupai kondisi nyata di lapangan. Mulai dari mengoperasikan peralatan pemadam, menyambung selang, hingga menyelesaikan simulasi penyelamatan dalam waktu sesingkat mungkin. Kesalahan kecil saja bisa membuat waktu tim terbuang.
Ketua Panitia Dede Septa Jaya mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar mencari tim tercepat. Menurutnya, tujuan utama lomba adalah meningkatkan kemampuan teknis sekaligus melatih kekompakan relawan agar semakin siap ketika benar-benar diterjunkan menghadapi kebakaran.
“Rasa kemanusiaan jangan sampai menurun. Banyak nyawa yang bisa kita selamatkan. Karena itu, melalui lomba ini kami ingin melatih keterampilan, kekompakan, dan kesiapsiagaan relawan agar saat terjadi keadaan darurat mereka sudah terbiasa bergerak lebih cepat dan tepat,” tegas Dede.
Lomba ketangkasan tersebut merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi ke-61 Pemerintah Kota Palangka Raya dan Hari Jadi ke-69 Kota Palangka Raya. Momentum itu dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang setiap tahun membayangi saat musim kemarau.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menilai kemampuan relawan harus terus diasah karena mereka menjadi garda terdepan membantu pemerintah saat terjadi kebakaran. Menurutnya, latihan seperti ini penting agar respons di lapangan semakin cepat dan terukur.
“Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan para relawan agar semakin siap menghadapi berbagai kondisi darurat, khususnya ancaman kebakaran hutan dan lahan,” ucapnya.
Tak hanya menguji kemampuan individu, kegiatan itu juga menjadi ruang mempererat koordinasi antarkomunitas relawan. Dengan komunikasi yang semakin solid, proses penanganan kebakaran maupun penyelamatan korban diharapkan berlangsung lebih cepat dan efektif.
Sehari sebelumnya, para relawan juga menggelar konvoi keliling kota sebagai penanda dimulainya penguatan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Suara sirene mobil para pejuang api terdengar di sepanjang rute. Hal itu tentu menarik perhatian, terutama bagi masyarakat yang terkejut.
Bukan kejadian, melainkan menjadi perhatian bagi masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan serta edukasi terhadap bahaya bencana kebakaran.
Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Palangka Raya Urianinu Napulangit dan Plt Kepala BPBD Palangka Raya Hendrikus Budi menegaskan keberadaan posko-posko relawan yang tersebar di berbagai wilayah menjadi kekuatan besar untuk mengedukasi warga.
Dengan harapan, sinergi pemerintah dan relawan tak hanya terasa saat api berkobar, tetapi juga mampu membangun budaya pencegahan sehingga risiko kebakaran, khususnya karhutla, dapat ditekan sejak dini. (ter)












