Kalimantan Tengah

Direktur RSJ Kalawa Atei : Bunuh Diri Akibat Stres Tidak Tertangani

95
×

Direktur RSJ Kalawa Atei : Bunuh Diri Akibat Stres Tidak Tertangani

Sebarkan artikel ini
DIWAWANCARA : Direktur RSJ Kalawa Atei, dr. Seniriaty diwawancarai awak media, Kamis (25/6/26) malam. FOTO dan VIDEO : IFA/RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Kota Palangka Raya tengah menghadapi situasi yang mengkhawatirkan setelah dalam sepekan terakhir terjadi 2 kasus bunuh diri yakni di G Obos VIII dan Pelatuk.

Fenomena tersebut menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental memerlukan perhatian serius, mengingat tindakan bunuh diri kerap berawal dari stres yang tidak ditangani dengan baik hingga berkembang menjadi depresi dan gangguan mental yang lebih berat.

Direktur RSJ Kalawa Atei, dr. Seniriaty, mengatakan rumah sakit jiwa tidak hanya menjalankan fungsi kuratif atau pengobatan, tetapi juga memiliki peran promotif, preventif, dan edukatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.

Menurutnya, RSJ Kalawa Atei telah menyediakan layanan kesehatan mental yang terintegrasi dengan upaya pencegahan bunuh diri.

“Di rumah sakit juga ada layanan kesehatan mental untuk pencegahan bunuh diri. Kami memiliki layanan dan jejaring, termasuk di unit gawat darurat, untuk memberikan penanganan secara cepat,” ujarnya, Kamis (25/6/26) malam.

Seniriaty menjelaskan, bunuh diri tidak disebabkan oleh satu faktor tertentu. Setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda, mulai dari gangguan psikotik, depresi, hingga tekanan psikologis yang berat. Pada pasien tertentu, tindakan tersebut juga dapat dipicu oleh gangguan pengobatan yang tidak terkontrol sehingga muncul halusinasi maupun waham.

“Kasusnya tidak bisa disamaratakan. Harus dilihat satu per satu apakah memang mengalami gangguan kesehatan mental atau ada faktor lain yang memengaruhi,” katanya.

Ia menuturkan, banyak gangguan kesehatan mental berawal dari stres yang tidak dikelola dengan baik. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, dapat berkembang menjadi depresi hingga gangguan mental yang lebih berat. Karena itu, masyarakat diimbau lebih peka terhadap perubahan kondisi psikologis, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

Selain deteksi dini, Seniriaty mengingatkan pentingnya manajemen stres melalui aktivitas positif, menjaga keseimbangan hidup, serta tidak ragu mencari bantuan tenaga profesional ketika mulai merasakan gejala depresi atau tekanan psikologis yang berkepanjangan.

Masyarakat juga tidak perlu khawatir mengenai biaya pengobatan, karena layanan kesehatan jiwa di RS Kalawa Atei dapat diakses menggunakan BPJS Kesehatan maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Di akhir keterangannya, Seniriaty mengajak masyarakat menghentikan stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Menurutnya, anggapan bahwa ODGJ identik dengan perilaku kekerasan merupakan stigma yang keliru dan justru dapat menghambat penyandang gangguan jiwa untuk memperoleh pertolongan serta menjalani proses pemulihan. (ifa/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *