DPRD Palangka Raya

Apel Siaga dan Kesiapan MPA Jadi Sorotan Dewan

67
×

Apel Siaga dan Kesiapan MPA Jadi Sorotan Dewan

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua II Komisi III DPRD Palangka Raya Sri Ani Rintuh.

PALANGKA RAYA – Kesiapan personel hingga koordinasi antarunsur penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai sama pentingnya dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukung.

Karena itu, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya mendorong pemerintah daerah segera menggelar apel siaga besar menjelang puncak musim kemarau 2026.

Wakil Ketua II Komisi III DPRD Kota Palangka Raya Sri Ani Rintuh mengatakan, apel siaga perlu melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berada di tingkat kelurahan. Langkah tersebut penting untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, serta pola koordinasi saat terjadi kebakaran.

“Kami mendorong adanya apel siaga besar yang melibatkan seluruh MPA di tingkat kelurahan. Ini penting untuk memastikan kesiapan personel sekaligus mengevaluasi kondisi peralatan yang akan digunakan selama musim kemarau,” katanya, Senin (22/6/26).

Menurut Sri Ani, keberadaan MPA selama ini menjadi ujung tombak dalam upaya pencegahan dan penanganan awal karhutla, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Oleh sebab itu, dukungan pemerintah terhadap kapasitas dan kesiapan kelompok tersebut harus terus diperkuat.

Selain kesiapan personel, ia juga mengingatkan pentingnya memastikan seluruh infrastruktur pendukung penanganan karhutla berada dalam kondisi baik. Ketersediaan sumber air, sumur bor, hidran, hingga peralatan pemadam portable harus dicek secara berkala agar dapat digunakan secara optimal saat keadaan darurat.

“Yang menjadi perhatian kami adalah ketersediaan air di daerah rawan kebakaran, sumur bor atau hidran yang tidak berfungsi, serta peralatan pemadam portable yang terkadang belum memadai untuk menjangkau area kebakaran yang luas,” ujarnya.

Sri Ani menegaskan, antisipasi harus dilakukan sejak dini mengingat ancaman karhutla cenderung meningkat ketika musim kemarau mulai berlangsung. Dengan kesiapan personel yang baik, dukungan sarana yang memadai, serta koordinasi yang kuat antarinstansi, risiko meluasnya kebakaran diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Jangan sampai saat kebakaran terjadi, baru dilakukan pembenahan. Semua harus dipersiapkan dari sekarang agar penanganan di lapangan dapat berjalan cepat dan efektif,” pungkasnya. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *