Strategi Lita Bertahan di Tengah Fluktuasi Harga Pasar
Di tengah keramaian Car Free Day Palangka Raya, satu lapak buah tampak selalu ramai dikunjungi pembeli. Bukan karena konsep mewah atau promosi besar-besaran, melainkan karena satu hal yang konsisten sejak awal berdiri, semua buah dijual dengan harga seragam Rp 10 ribu.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
LAPAK itu bernama Lita Buah. Usaha ini awalnya hanya percobaan sederhana dari pemilik yang sebelumnya berjualan buah secara konvensional. Namun perubahan konsep menjadi sistem paket “serba 10 ribu” justru membawa respons pasar yang jauh lebih besar dari perkiraan. “Awalnya cuma coba-coba, ternyata ramai. Dari situ lanjut sampai sekarang,” kata pemilik Lita Buah, Minggu (7/6/2026).
Sejak saat itu, konsep tersebut tidak pernah berubah. Hingga kini, Lita Buah tetap dikenal dengan harga tetap yang tidak mengikuti naik-turunnya harga pasar.
Lapak ini rutin hadir di Car Free Day Palangka Raya, serta di beberapa titik ramai lainnya seperti Tikungan Sandys, Jl. Ahmad Yani.
Di meja lapak, berbagai buah tersusun dalam kemasan sederhana. Ada buah impor seperti apel, pir, anggur, dan jeruk, serta buah lokal seperti salak, pepaya, jambu, nanas, melon, semangka, hingga buah naga. Semua dikemas dalam ukuran yang sudah disesuaikan agar tetap berada dalam satu harga.
Namun mempertahankan harga tetap bukan perkara mudah. Biaya bahan seperti plastik kemasan hingga harga buah impor yang fluktuatif menjadi tantangan tersendiri. “Kalau bahan naik, ya tetap kita jual sepuluh ribu. Dari awal memang komitmen segitu,” ujarnya.
Keputusan untuk tidak mengubah harga membuat strategi bisnis ini berbeda dari kebanyakan usaha sejenis. Alih-alih menyesuaikan harga dengan biaya produksi, Lita Buah memilih menjaga harga tetap dan mengandalkan perputaran penjualan. “Kalau sudah tahu serba 10 ribu, orang datang jadi lebih gampang milih. Ambil, bayar, selesai,” tambahnya.
Dalam praktiknya, strategi ini sangat bergantung pada keramaian lokasi dan volume pembeli. Saat Car Free Day, misalnya, jumlah pengunjung bisa meningkat signifikan sehingga membantu menjaga keseimbangan usaha.
Meski terlihat sederhana, proses di baliknya tidak ringan. Setiap hari, buah harus dipilih, dipotong, dan dikemas satu per satu sebelum dijual. Pekerjaan ini memerlukan waktu dan tenaga lebih dibanding penjualan buah biasa. “Kita itu kerja dua kali. Kalau jual buah biasa tinggal jual, ini harus packing lagi, motong lagi,” ujarnya.
Untuk membantu operasional, keluarga dan kerabat turut terlibat dalam kegiatan sehari-hari, terutama saat jam ramai. Kebersamaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran usaha.
Pasokan buah sendiri diperoleh dari dua sumber utama. Buah lokal dibeli langsung dari petani, sementara buah impor didatangkan melalui distributor atau gudang penyimpanan di kota.
Di balik angka Rp 10 ribu yang seragam, terdapat perhitungan bisnis yang cukup jelas. Strategi ini bukan sekadar soal harga murah, tetapi soal kecepatan perputaran barang dan kestabilan pembeli. “Kalau ramai terus, ya masih jalan. Yang penting barang muter,” kata pemiliknya.
Fenomena Lita Buah menunjukkan bahwa dalam usaha skala kecil, kekuatan tidak selalu terletak pada harga tinggi atau margin besar. Konsistensi, kemudahan, dan kejelasan justru bisa menjadi daya tarik utama di mata pembeli.
Di tengah perubahan harga pasar yang sulit diprediksi, Lita Buah tetap bertahan dengan satu prinsip sederhana, harga tidak berubah, meski kondisi di belakang layar terus bergerak. (ifa)












