Feature

Santri Diminta Tak Telan Mentah Informasi Internet

389
×

Santri Diminta Tak Telan Mentah Informasi Internet

Sebarkan artikel ini
Bupati Kotim Halikinnor foto bersama para santri saat membuka Seminar Anak Pesantren bertajuk Tantangan Generasi Muda di Era Digital di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotawaringin Timur, Sabtu (30/5/2026) lalu. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Dari Seminar Anak Pesantren Bertajuk Tantangan Generasi Muda di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibendung, Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, mengingatkan generasi muda, khususnya para santri, agar tidak mudah percaya terhadap berbagai informasi yang beredar di internet dan media sosial.

PESAN tersebut disampaikan Halikinnor saat membuka Seminar Anak Pesantren bertajuk Tantangan Generasi Muda di Era Digital yang diikuti ratusan santri dari berbagai pondok pesantren di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim, Sabtu (30/5/2026) lalu.

Menurut Halikinnor, perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun di balik manfaat tersebut, terdapat ancaman yang harus diwaspadai, terutama bagi generasi muda yang menjadi pengguna aktif media sosial.

“Teknologi dan internet memang memudahkan kita mendapatkan informasi. Tetapi tidak semua informasi yang beredar itu benar. Karena itu anak-anak harus memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Ia menilai penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berdampak pada pola pikir dan perilaku anak-anak. Bahkan saat ini tidak sedikit generasi muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia digital tanpa memahami risiko yang mengintai.

Menurut Halikinnor, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, guru, maupun lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk membekali anak-anak dengan pemahaman yang kuat mengenai penggunaan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

“Perkembangan teknologi tidak mungkin kita hindari. Yang harus dilakukan adalah memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif, menambah ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, dan mengembangkan potensi diri,” katanya.

Ia berharap para santri dapat menjadi generasi yang cerdas secara digital tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan.

Dalam seminar tersebut, narasumber utama, Habib Muhammad Hanif, turut mengingatkan pentingnya menjaga tradisi belajar kepada guru di tengah kemudahan akses informasi melalui internet.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin banyak pelajar dan santri yang menjadikan internet sebagai sumber rujukan utama, bahkan untuk persoalan keagamaan, tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan guru.

“Informasi di internet sering kali terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Dalam ilmu agama, guru memiliki peran yang sangat penting karena memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa belajar agama tidak cukup hanya dengan membaca atau menonton konten digital. Kehadiran guru dibutuhkan untuk memberikan pemahaman yang utuh, menjelaskan konteks, serta meluruskan apabila terjadi kesalahan penafsiran.

“Mata rantai keilmuan merupakan bagian penting dalam agama. Karena itu generasi muda jangan sampai hanya mengandalkan internet tanpa bimbingan guru yang memiliki kompetensi dan keilmuan yang jelas,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, para santri diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan pengembangan diri, namun tetap menjadikan guru sebagai sumber rujukan utama dalam memahami ilmu agama dan nilai-nilai kehidupan. (pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *