PALANGKA RAYA – Gemuruh takbir menggema dari Bundaran Besar Palangka Raya, Selasa (26/5/2026) malam. Lampu kendaraan peserta pawai berkilau bersahut-sahutan, sementara warga berdiri rapat di sisi jalan, sebagian mengabadikan suasana dengan telepon genggam, sebagian lagi larut mengikuti lantunan takbir. Malam itu, Idul Adha di Kota Cantik terasa bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi ruang berkumpulnya ribuan orang dalam suasana hangat penuh kebersamaan.
Di tengah keramaian itu, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial. Menurutnya, nilai terbesar dari hari raya kurban bukan hanya soal penyembelihan hewan, tetapi bagaimana masyarakat saling berbagi dan peduli tanpa memandang latar belakang.
“Hari Raya Idul Adha menjadikan momentum indah memperkuat kepedulian, berbagi dalam kebersamaan tanpa memandang suku, agama, bangsa dan status ekonomi,” kata Agustiar di hadapan masyarakat yang memadati kawasan Bundaran Besar. Ia menegaskan, ukuran kemajuan daerah bukan hanya dilihat dari kekayaan alam atau pembangunan fisik, tetapi juga dari sikap masyarakat yang saling menghormati dan menjaga persaudaraan.
Suasana malam takbiran pun terasa semakin hidup ketika iring-iringan kendaraan peserta pawai mulai melintas. Sirine mobil relawan damkar dan ambulans bersahutan sepanjang rute pawai, memancing sorak warga yang memenuhi tepi jalan. Anak-anak tampak antusias melambaikan tangan, sementara para orang tua menikmati suasana malam sambil duduk santai di sekitar Bundaran Besar dan kawasan RTH eks KONI yang juga dipadati pengunjung.
Bagi banyak warga, malam takbiran bukan hanya tentang tradisi menyambut Idul Adha, tetapi juga kesempatan menikmati wajah lain Kota Palangka Raya yang penuh semangat kebersamaan. Pedagang kaki lima yang berjualan juga kebanjiran pembeli. Tidak sedikit masyarakat datang bersama keluarga hanya untuk merasakan suasana yang jarang ditemui di hari biasa.
Agustiar mengatakan semangat kebersamaan dalam malam takbiran harus menjadi simbol persaudaraan masyarakat Kalimantan Tengah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga filosofi Huma Betang yang selama ini menjadi identitas hidup bersama di tengah keberagaman. Semangat solidaritas dan saling mendukung menjadi modal penting dalam pembangunan daerah.
Di tengah malam yang dipenuhi gema takbir itu, pesan tersebut terasa sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, bahwa Idul Adha bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang bagaimana manusia tetap saling menjaga satu sama lain. (ter)












