Feature

Pesona Astana Mangkubumi, Bupati Kobar Jadi Pusat Perhatian

273
×

Pesona Astana Mangkubumi, Bupati Kobar Jadi Pusat Perhatian

Sebarkan artikel ini
KARNAVAL BUDAYA : Kontingen Kotawaringin Barat menampilkan kostum manusia naga yang merujuk pada legenda Kyai Gede dari Kobar pada karnaval budaya HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Minggu (17/5/2026). Bupati Kobar Nurhidayah juga ikut jalan bersama saat karnaval budaya. IFA/RADAR KALTENG

Dari Arena Karnaval Budaya HUT ke-69 Provinsi Kalteng

Di bawah langit cerah Kota Palangka Raya, semarak peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah terasa begitu hidup, Minggu (17/5/2026). Ribuan masyarakat memadati sepanjang ruas jalan utama untuk menyaksikan karnaval budaya yang menghadirkan ragam kekayaan tradisi dari seluruh kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

SORAK penonton pecah setiap kali rombongan peserta melintas. Alunan musik tradisional berpadu dengan warna-warni busana adat menciptakan suasana penuh kebanggaan terhadap budaya daerah.

Di antara banyaknya kontingen yang tampil memikat, perhatian masyarakat tertuju pada penampilan Kabupaten Kotawaringin Barat yang tahun ini mengangkat tema sejarah tentang Astana Mangkubumi atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan Rumah Besar atau Rumah Bosar.

Kontingen Kobar tampil megah dengan membawa replika rumah panggung khas Kalimantan berbahan kayu ulin. Ornamen tradisional berpadu dengan nuansa Melayu pesisir yang kental, menghadirkan suasana kerajaan masa lampau di tengah kemeriahan karnaval.

Tidak hanya menampilkan kekayaan sejarah dan budaya, penampilan Kotawaringin Barat tahun ini semakin mencuri perhatian karena kehadiran Bupati Kobar Nurhidayah yang turut berjalan bersama rombongan kontingen. Dengan balutan busana adat bernuansa elegan dan penuh wibawa, Nurhidayah tampak anggun menyapa masyarakat sepanjang rute karnaval.

Langkahnya yang tenang dan senyum yang terus mengembang menjadi simbol kedekatan pemimpin dengan budaya daerahnya sendiri. Sesekali ia melambaikan tangan kepada warga yang antusias menyaksikan jalannya karnaval. Kehadiran orang nomor satu di Kobar itu pun mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari masyarakat.

Di tengah arak-arakan budaya, Nurhidayah tampak membaur bersama para peserta lainnya, menunjukkan semangat kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya daerah. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya menjaga dan memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas.

Tema yang diangkat Kobar tahun ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga peninggalan sejarah daerah. Astana Mangkubumi sendiri merupakan salah satu bangunan tua berarsitektur tradisional Kalimantan yang masih berdiri kokoh di Kota Pangkalan Bun hingga saat ini.

Rumah bersejarah itu berbentuk empat persegi panjang dengan model rumah panggung bertiang tinggi. Di bagian bawah rumah terdapat kolong-kolong luas, sementara hampir seluruh material bangunan menggunakan kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama.

Bagi masyarakat Pangkalan Bun, Astana Mangkubumi bukan sekadar bangunan tua. Di dalamnya tersimpan berbagai benda pusaka dan koleksi bersejarah yang menjadi saksi perjalanan budaya Masyarakat Kobar.

Koleksi tersebut meliputi senjata pusaka seperti keris, tombak, dan pedang, hingga pakaian tradisional yang dahulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun upacara adat, seperti kopiah cabang dan subrah.

Selain itu, terdapat pula dokumen-dokumen berharga berupa surat-menyurat kerajaan, piagam, serta Al-Qur’an tulisan tangan yang menjadi peninggalan bernilai sejarah tinggi. Astana Mangkubumi juga menyimpan keramik Cina dari masa Dinasti Qin dan keramik Eropa abad ke-19 hingga ke-20 yang menunjukkan hubungan perdagangan masa lampau.

Menariknya, sebagian besar koleksi yang ada di dalam rumah besar tersebut berupa peralatan rumah tangga dan dapur berukuran besar. Peralatan itu dahulu digunakan untuk memasak dalam jumlah banyak saat kegiatan keagamaan maupun acara adat masyarakat.

Pada malam hari, bangunan utama Astana Mangkubumi dahulu diterangi lampu petromaks yang menjadi sumber penerangan utama dalam setiap kegiatan adat dan keagamaan. Cahaya lampu itu menjadi bagian dari cerita panjang kehidupan masyarakat di rumah bersejarah tersebut.

Melalui penampilan dalam karnaval budaya ini, Kobar tidak hanya menampilkan keindahan visual budaya, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah yang menjadi identitas daerah.

Kehadiran Bupati Nurhidayah yang ikut berjalan bersama kontingen menambah makna tersendiri dalam penampilan tersebut. Tidak hanya sebagai pemimpin daerah, ia hadir sebagai bagian dari masyarakat yang ikut menjaga dan membanggakan warisan budaya leluhur.

Karnaval budaya Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah pun menjadi panggung penting bagi setiap daerah untuk menunjukkan kekayaan sejarah dan tradisinya. Dan melalui kisah Astana Mangkubumi, Kobar kembali mengingatkan bahwa budaya adalah jati diri yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Di tengah gemerlap perayaan dan riuh tepuk tangan masyarakat, langkah anggun rombongan Kobar yang dipimpin langsung oleh sang bupati menjadi gambaran bahwa sejarah dan budaya akan selalu hidup ketika masyarakat dan pemimpinnya berjalan bersama menjaganya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *