Di tengah upaya diplomasi yang belum menunjukkan kemajuan signifikan, retorika kedua pihak justru semakin keras. Trump sebelumnya memperingatkan bahwa ‘banyak bom akan mulai berjatuhan’ jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat waktu.
Dalam wawancara terpisah, ia bahkan menyatakan kesiapan untuk kembali melakukan serangan. “Saya memperkirakan akan melakukan pengeboman, karena itu sikap yang lebih kuat. Militer kami siap,” katanya.
Sementara itu, Iran juga mengklaim memiliki “kartu baru di medan perang” yang belum digunakan, menandakan potensi eskalasi yang masih terbuka lebar.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, yang diperkirakan akan memimpin delegasi negosiasi jika pembicaraan dilanjutkan di Pakistan, dilaporkan masih berada di Washington. Demikian mengutip CBC.
Pemerintah Pakistan sendiri menyatakan masih menunggu konfirmasi dari Iran terkait partisipasi mereka dalam putaran negosiasi berikutnya di Islamabad.
Ketegangan juga meluas ke perairan internasional. Militer AS mengkonfirmasi telah menaiki kapal tanker minyak M/T Tifani yang sebelumnya dikenai sanksi karena diduga menyelundupkan minyak Iran.
Insiden itu terjadi tanpa perlawanan, namun lokasi pastinya tidak diungkap. Data pelacakan kapal menunjukkan tanker tersebut berada di Samudra Hindia, antara Sri Lanka dan Indonesia.
Sehari sebelumnya, AS juga menyita kapal kargo Iran dalam operasi pertama di bawah kebijakan blokade pelabuhan. Iran mengecam tindakan tersebut sebagai pembajakan dan pelanggaran gencatan senjata.
Editor: Kuswandi
Sumber : jawapos.com












