PANGKALAN BUN – Haru biru menyelimuti penghormatan terakhir Prof. Dr. Biruté Marija Filomena Galdikas. Para pelayat berdatangan melepas kepergian seorang figur wanita yang disebut “Ibu Orang Utan” itu.
Kedua anaknya, Frederick Pahlerang Bohap Galdikas dan Jane Filomena Galdikas, bersama sejumlah anggota keluarga duka lainnya, khidmat mengikuti prosesi upacara pemakaman adat Hindu Kaharingan Lamantuha Pasir Panjang, yang dipandu Dewan Adat Dayak setempat. Sebagaimana permintaan mendiang, ia pun dikubur berdampingan dengan pusara suaminya, Bohap bin Jalan.
Lima dekade lebih mengabdi di hutan Kalimantan, kedekatannya dengan masyarakat lokal menumbuhkan rasa cinta akan budaya Dayak. Beliau adalah seorang primatolog kelas dunia yang menganggap Indonesia, terkhusus Pangkalan Bun dan Tanjung Puting bukan hanya tempat bekerja, melainkan rumah sejati dan bagian identitas dirinya.
Frederick Galdikas, putranya, menggambarkan sang ibu sebagai sosok yang memberikan segala pengorbanan demi kelestarian orangutan dan habitatnya. Tanpa pamrih sedikit pun.
Menghabiskan waktu di tengah rimba tropis, bukan karena mencari ketenaran ataupun kekayaan.
“Ibu menjalani kehidupan dengan prinsip, tulus, lurus, dan terus ikhlas. Tiga hal ini pula yang menjadikan pedoman hidup saya,” ujarnya.
Di tengan kesedihan, terselip kebanggaan dan kekaguman terhadap ibu yang membesarkannya itu. Bagaimana tidak,
meski pernah menghadapi tantangan, keyakinannya tetap kuat untuk melindungi makhluk yang tak bisa menyuarakan haknya sendiri.
“Walaupun pernah diculik, diancam dibunuh puluhan kali, dan dicaci maki, beliau tidak pernah goyah sedikit pun memperjuangkan kebenaran,” ungkap Frederick.
Dia membagikan pelajaran berharga yang diterima selama tumbuh dewasa. Sang ibu telah mengajarkannya nilai keteguhan, kemurahan hati, kasih sayang, integritas, dan konsistensi.
“Ibu menunjukkan bahwa satu orang pun dapat membuat perubahan, jika cukup peduli dan gigih,” tambahnya.
Melalui kiprahnya bersama Orangutan Foundation International (OFI), mendiang tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mengubah cara dunia memandang orang utan serta mendorong upaya perlindungan spesies tersebut. Frederick meminta agar kepergiannya dirayakan sebagai warisan yang mesti diteruskan kepada generasi.
“Terima kasih Ibu untuk segalanya. You are home now,” tutur Frederick, menutup sambutan penghormatan dengan suara bergetar yang menyentuh.
Di tanah Kalimantan yang dicintainya, mendiang akhirnya beristirahat. Dunia hari ini kehilangan tokoh besar, namun semangat perjuangannya diyakini tetap hidup. Selamat jalan ke tempat perabadian, Prof. Dr. Biruté Galdikas, The Mother of Orang Utan. Jejakmu tak akan pernah ikut terkubur.
(fit)












