PALANGKA RAYA – Sebanyak 3.000 pelaku usaha di sektor prioritas seperti pangan lokal, perikanan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) olahan, ekonomi kreatif, serta hilirisasi produk desa menjadi sasaran utama program Kredit UMKM Huma Betang Unggul, Efisien, dan Tangguh (HAGUET), dengan plafon pinjaman maksimal hingga Rp 50 juta per debitur.
Program yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) ini tengah dimatangkan melalui rapat pembahasan yang dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik H Darliansjah. Skema ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan yang terjangkau dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM di daerah.
Dalam arahannya, Darliansjah menegaskan bahwa persoalan mendasar UMKM di Kalteng masih perlu penanganan komprehensif.
“Intervensi yang dilakukan tidak cukup hanya melalui subsidi bunga, tetapi harus terintegrasi mulai dari pembiayaan, penjaminan, hingga pendampingan usaha secara menyeluruh,” ujarnya, baru-baru ini.
Untuk menjawab tantangan tersebut, skema HAGUET mengusung konsep subsidi bunga dan berbagi risiko (risk sharing) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan seperti Bank Kalteng, serta dukungan lembaga penjamin.
Dalam skema ini, suku bunga kredit sebesar 6 persen per tahun akan ditanggung bersama, yakni 3 persen oleh pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan 3 persen oleh pihak bank. Dengan demikian, pelaku UMKM dapat memperoleh kredit dengan bunga nol persen dan hanya membayar pokok pinjaman.
Selain itu, penguatan dilakukan melalui penjaminan kredit oleh PT Jamkrida Kalteng hingga 70 persen. Pendampingan usaha juga menjadi bagian penting, mulai dari tahap pra hingga pasca penyaluran kredit.
Program ini turut mengedepankan inovasi kebijakan melalui kurasi usaha, monitoring berbasis data, serta integrasi lintas perangkat daerah. Pemerintah juga menyiapkan dashboard digital untuk memantau penyaluran kredit, kinerja UMKM, dan risiko kredit macet secara real time.
Secara ekonomi, implementasi program ini diproyeksikan mampu mendorong perputaran ekonomi daerah hingga Rp 225 miliar serta menyerap tenaga kerja antara 6.000 hingga 9.000 orang.
Pemprov Kalteng berharap program HAGUET dapat memperkuat ekonomi kerakyatan, meningkatkan inklusi keuangan, serta mendorong UMKM naik kelas dan lebih berdaya saing. (ifa/ens)












