Trump selama ini dikenal mengkritik kebijakan Barack Obama yang pernah mencairkan dana Iran dalam kesepakatan nuklir 2015.
Karena itu, kemungkinan AS menyetujui pembayaran kompensasi dinilai sangat kecil.
Selain itu, tuntutan penarikan pasukan AS dari Timur Tengah juga bertentangan dengan kebijakan luar negeri Amerika selama puluhan tahun.
Meski Washington belakangan memang memberi sinyal ingin mengurangi keterlibatan militernya di kawasan.
Yang paling krusial, proposal Iran tidak mencantumkan komitmen untuk menghentikan program nuklirnya, isu utama yang selama ini menjadi prioritas pemerintahan Trump.
Meski demikian, isu pembukaan Selat Hormuz tetap menjadi titik sentral. Iran sebelumnya menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan yang dimulai pada 28 Februari.
Setelah Trump mengumumkan penundaan serangan, harga minyak dunia langsung turun tajam, mencerminkan harapan pasar terhadap meredanya konflik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga menyatakan negaranya siap menjamin jalur aman di Selat Hormuz selama dua minggu sebagai bagian dari proses negosiasi.
Pembicaraan antara AS dan Iran dijadwalkan dimulai Jumat di Islamabad, dengan mediasi Pakistan.
Kedua pihak juga membawa proposal masing-masing, 10 poin dari Iran dan 15 poin dari AS, yang akan menjadi dasar diskusi.
Meski jalur diplomasi mulai terbuka, perbedaan tajam dalam sejumlah isu utama membuat peluang kesepakatan masih penuh tantangan.
Penundaan serangan selama dua minggu kini menjadi momen krusial: apakah akan berujung pada kesepakatan damai bersejarah, atau justru hanya jeda sebelum konflik kembali memanas.
Editor: Bayu Putra
Sumber : jawapos.com












