International

Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari Trump, Enggan Ikut Mediasi di Islamabad Saat Konflik Memanas

280
×

Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari Trump, Enggan Ikut Mediasi di Islamabad Saat Konflik Memanas

Sebarkan artikel ini
Rudal Iran dipamerkan di Teheran pada 26 Maret 2026 di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel / Foto: (Middle East Eye)

Meski demikian, laporan yang sama menyebut bahwa Qatar justru menolak tekanan untuk mengambil peran sebagai mediator utama. The Wall Street Journal mencatat bahwa negara tersebut “menolak tekanan untuk menjadi mediator dalam pembicaraan gencatan senjata,” meskipun Amerika Serikat dan sejumlah negara regional mendorong keterlibatannya.

Di tengah kebuntuan diplomatik, situasi militer di lapangan menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kapasitas tempur yang signifikan. Penilaian intelijen Amerika Serikat, yang pertama kali dilaporkan CNN, menyebut bahwa Iran masih mempertahankan sekitar setengah dari peluncur rudal serta drone kamikaze yang dimilikinya.

Temuan ini bertolak belakang dengan klaim pejabat Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menggambarkan kemampuan militer Iran telah “dihancurkan” sejak awal konflik. Narasi tersebut kini dipertanyakan, mengingat fakta di lapangan menunjukkan daya tahan militer Iran yang lebih kuat dari perkiraan awal.

Eskalasi konflik kian nyata di lapangan setelah dua pesawat tempur Amerika Serikat dilaporkan jatuh dalam waktu berdekatan. Dalam salah satu insiden tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-15E di wilayah barat daya Iran.

Juru bicara markas komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa pesawat tersebut telah “hancur sepenuhnya.” Pernyataan itu disiarkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim. Meski Iran awalnya menyebut pesawat tersebut sebagai F-35, sumber militer Amerika kemudian mengklarifikasi bahwa jet yang jatuh adalah F-15E.

Upaya pencarian terhadap awak pesawat dilakukan oleh kedua pihak. Laporan CBS News menyebutkan bahwa satu dari dua awak berhasil diselamatkan oleh pasukan Amerika Serikat, sementara pencarian terhadap pilot kedua masih berlangsung.

Tidak lama berselang, laporan The New York Times mengungkap bahwa pesawat tempur kedua, A-10 Warthog, juga jatuh di kawasan Teluk, tepatnya di dekat Selat Hormuz. Pilot tunggal dalam pesawat tersebut dilaporkan berhasil diselamatkan.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya bertahan, tetapi juga menunjukkan potensi eskalasi lebih lanjut. Dengan jalur diplomasi yang buntu dan kapasitas militer yang masih signifikan di kedua pihak, prospek penyelesaian jangka pendek tampak semakin sulit tercapai.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Sumber : jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *