Di sisi lain, kebijakan tersebut memicu ketegangan internal yang signifikan. Pergantian cepat di level tertinggi militer berpotensi mengganggu stabilitas komando, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran.
Kontroversi yang melingkupi Hegseth juga semakin memperumit situasi. Ia disebut-sebut menghadapi berbagai tuduhan serius, termasuk dugaan kejahatan perang di kawasan Karibia serta laporan inspektur jenderal yang menuding adanya kesalahan dalam pengelolaan intelijen militer rahasia.
Selain itu, keputusan-keputusan lain yang diambilnya turut menuai kritik. Salah satunya adalah penghentian investigasi terhadap personel Angkatan Darat yang menerbangkan dua helikopter AH-64 Apache di dekat kediaman musisi Kid Rock di Nashville, tanpa sanksi lebih lanjut.
Lebih jauh, laporan media juga mengungkap bahwa Hegseth diduga berupaya menghambat promosi empat perwira militer—dua perempuan dan dua pria kulit hitam—ke pangkat brigadir jenderal bintang satu. Laporan ini sejalan dengan sikapnya yang secara terbuka menentang kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) di tubuh militer AS.
Dengan rangkaian keputusan yang saling berkaitan ini, pengunduran diri George tampak bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan bagian dari perubahan struktural yang lebih luas dan kontroversial. Situasi ini membuka pertanyaan besar mengenai arah kepemimpinan militer Amerika Serikat ke depan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara profesionalisme militer dan tekanan politik di tingkat tertinggi pemerintahan.
Editor: Setyo Adi Nugroho
Sumber : jawapos.com












