Di sisi lain, Iran juga mengalami kerugian besar dalam struktur kepemimpinannya. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan panglima IRGC Mohammad Pakpour dilaporkan tewas pada hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari. Selain itu, tokoh penting lainnya seperti Ali Larijani juga termasuk di antara korban, bersama sejumlah figur berpengaruh lainnya.
Amerika Serikat dan Israel mengklaim bahwa serangan terhadap jajaran pimpinan Iran telah memberikan pukulan signifikan terhadap stabilitas internal negara. Namun, sejumlah analis internasional menilai bahwa Iran masih menunjukkan daya tahan yang kuat dan kemampuan untuk memulihkan diri dari kerugian tersebut.
Sebagai respons terhadap serangan terhadap infrastrukturnya, militer Iran pada hari yang sama juga mengumumkan operasi balasan menggunakan drone. Target yang disebut meliputi pusat komunikasi, telekomunikasi, dan fasilitas industri di Israel, termasuk fasilitas milik Siemens di dekat bandara internasional utama serta infrastruktur AT&T di kota Haifa.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait keberhasilan serangan. Situasi ini memperlihatkan adanya perang informasi yang berjalan paralel dengan konflik militer di lapangan.
Secara keseluruhan, eskalasi ini menandai perubahan signifikan dalam karakter konflik modern, di mana perusahaan teknologi global tidak lagi berada di luar medan konflik, melainkan menjadi bagian dari target strategis. Dengan ancaman yang kini meluas ke sektor sipil dan infrastruktur digital, risiko terhadap stabilitas global pun semakin meningkat.
Editor: Candra Mega Sari
Sumber : jawapos.com












