FeaturePeristiwa

‎Niat Mencari Ikan, Malah Tangkap Buaya

282
×

‎Niat Mencari Ikan, Malah Tangkap Buaya

Sebarkan artikel ini
TANGKAP BUAYA : Marliansyah bersama warga mengamankan buaya yang ditangkap di Sungai Marjan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (27/3/2026) lalu.APRI/RADAR KALTENG

Ketika Warga Kotim Mengail Rezeki di Sungai Marjan

‎‎Pagi itu, Jumat (27/3/2026), kabut tipis masih menggantung di atas aliran Sungai Marjan. Air mengalir tenang, seolah tak menyimpan kejutan apa pun. Bagi Marliansyah, warga Jalan Iskandar 25, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), suasana seperti itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai pencari ikan.

‎‎SINDY APRIANSYAH, Sampit

SEKITAR pukul 06.00 WIB, seperti hari-hari sebelumnya, Marliansyah menyusuri sungai yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Jaring ikan ia pasang dengan harapan mendapat tangkapan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak ada firasat apa pun, hingga air tiba-tiba beriak lebih keras dari biasanya.

“Pas memasang jaring ikan, tiba-tiba ada buaya itu menabrak jaring saya. Dia lagi makan ikan yang terperangkap di jaring,” kata Marliansyah saat diwawancarai awak media.

‎Seekor buaya berukuran sekitar satu meter tampak terjerat. Awalnya, hewan itu hanya tertarik pada ikan yang sudah lebih dulu terperangkap. Namun nafsu makan justru membawanya masuk dalam jebakan yang sama.

‎Bagi Marliansyah, yang sudah lama akrab dengan sungai, perjumpaan itu bukan sekadar tak terduga. Tapi pengalaman pertama yang benar-benar nyata berhadapan langsung dengan predator air tersebut.

‎Sungai Marjan memang bukan wilayah asing bagi buaya. Warga sekitar kerap melihat kemunculan hewan itu. Bahkan dengan ukuran yang jauh lebih besar. Meski begitu, selama ini buaya-buaya tersebut dikenal tidak agresif terhadap manusia. “Ukurannya ada yang seperti drum. Tapi tidak pernah menyerang. Paling kalau lihat manusia dia lari,” ujarnya.

‎‎Meski demikian, keberadaan buaya tetap menyisakan kekhawatiran. Terutama karena sungai masih menjadi ruang aktivitas warga. Anak-anak kerap mandi, sementara orang dewasa mencari ikan atau sekadar beraktivitas di tepian.

‎Dengan pertimbangan itu, Marliansyah memilih membawa buaya tersebut ke rumahnya. Ia mengamankan hewan itu dengan mengikat kaki dan melakban mulutnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

‎Dalam waktu singkat, halaman rumahnya dipenuhi warga. Anak-anak hingga orang dewasa datang silih berganti, penasaran ingin melihat langsung buaya yang biasanya hanya muncul sekilas di sungai.

‎Bagi sebagian warga, ini adalah tontonan langka. Namun di balik keramaian itu, terselip kesadaran bahwa mereka hidup berdampingan dengan alam yang masih menyimpan sisi liar.

‎Marliansyah sendiri tak pernah menyangka niat sederhana mencari ikan justru berujung pada pengalaman yang akan lama ia ingat. ‎“Ini pengalaman pertama dapat buaya,” ucapnya singkat.

‎Di Sungai Marjan, pagi itu, manusia dan alam kembali dipertemukan dalam cara yang tak biasa. Hal ini juga menjadi sebuah pengingat, bahwa alam selalu punya cara untuk menunjukkan keberadaannya, dan manusia dituntut untuk tetap bijak, waspada, serta menghormati ruang hidup yang mereka bagi bersama. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *