Gaya bahasa yang “asal” memang tampak akrab, tapi di mata profesional, itu bisa merusak kredibilitas.
Ketika seseorang terbiasa menulis dengan kata-kata kasar atau plesetan berlebihan di akun publik, orang lain akan kesulitan memisahkan sisi pribadi dan profesionalnya.
Di era digital, cara Anda menulis sering kali menjadi “wajah pertama” yang dilihat dunia sebelum bertemu dengan Anda secara nyata.
9. Menyukai atau Mengomentari Konten yang Tidak Pantas
Sekilas tampak tidak penting, tapi algoritma media sosial bisa menampilkan interaksi Anda di hadapan orang lain.
Menyukai unggahan dengan konten yang menyinggung, vulgar, atau berbau kebencian bisa menciptakan kesan bahwa Anda mendukung hal tersebut.
Banyak kasus reputasi profesional hancur hanya karena seseorang “menyukai” postingan yang salah.
10. Berpura-pura Jadi Orang Lain atau Menampilkan Kehidupan yang Tak Nyata
Menampilkan versi terbaik dari diri sendiri itu wajar, tapi menciptakan persona palsu di dunia maya bisa menjadi bumerang.
Cepat atau lambat, ketidaksesuaian antara citra online dan realita akan terlihat, dan saat itu terjadi, kepercayaan orang akan hilang sepenuhnya.
Orang yang terlihat terlalu sempurna sering kali justru dianggap tidak autentik, dan keaslian adalah hal paling dicari di era digital yang serba topeng ini.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Sumber : jawapos.com












