Melihat Kehadiran Perpustakaan Keliling di Arena CFD Palangka Raya
Pagi itu, di tengah riuhnya aktivitas Car Free Day (CFD), sebuah mobil berwarna biru terparkir di sudut keramaian sekitar Bundaran Besar Palangka Raya. Anak-anak perlahan mendekat. Sebagian menggandeng tangan orang tua. Sebagian lagi berlari kecil begitu melihat rak-rak buku tersusun rapi di dalamnya.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
MOBIL tersebut bukan kendaraan biasa. Itu adalah perpustakaan keliling milik Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah, sebuah upaya jemput bola untuk menghadirkan literasi lebih dekat ke masyarakat.
Di dalam mobil itu tersimpan sekitar 600 judul buku. Namun setiap kali turun layanan, hanya sekitar 200 buku yang dibawa. Pemilihannya tidak sembarangan. Koleksi disesuaikan dengan lokasi tujuan dan segmentasi usia pengunjung.
“Kalau ke sekolah dasar atau kegiatan seperti CFD, kita lebih banyak bawa buku anak-anak. Kalau ke SMA, kita sesuaikan dengan novel dan buku pengetahuan remaja,” ujar Febrianto Amadeus Boediman, Plt Kepala Bidang Layanan, Teknologi Informasi, dan Kerjasama Perpustakaan, Minggu (15/2/2026).
Mobil perpustakaan keliling tersebut merupakan hibah dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Program ini sebenarnya sudah ada sejak 2022. Namun di awal pelaksanaannya belum terlalu aktif menjangkau masyarakat.
Perubahan mulai terasa ketika muncul dorongan agar ruang-ruang literasi tetap terbuka, meski dalam kondisi efisiensi anggaran. Perpustakaan tidak lagi hanya menunggu pengunjung datang ke gedung layanan. Sebaliknya, perpustakaan yang mendatangi warga.
Kini, setiap hari Minggu mobil perpustakaan hadir di lokasi CFD. Pada hari-hari lain berkeliling ke sekolah-sekolah dan pusat aktivitas masyarakat. Strategi ini menjadi bentuk komitmen agar akses terhadap bacaan tidak terpusat di satu lokasi saja.
Di tengah tantangan rendahnya minat baca, pendekatan ini menjadi langkah nyata. Buku tidak lagi terkesan jauh atau formal. Ia hadir di ruang publik, di tempat orang berolahraga, bersantai, dan berkumpul.
Di dalam mobil, rak-rak buku disusun rapi. Ada buku pengetahuan umum, kisah tokoh, buku agama, novel, hingga bacaan anak bergambar penuh warna. Selain buku, tersedia pula fasilitas bermain dan karpet agar anak-anak bisa duduk lesehan dengan nyaman.
Modifikasi kecil ini sengaja dilakukan untuk menarik perhatian anak. Sebab literasi, menurut Febrianto, bukan hanya soal membaca teks. “Literasi itu juga tentang interaksi dan melatih berpikir. Karena itu kami tambahkan permainan edukatif,” katanya.
Anak-anak tampak duduk berkelompok. Ada yang membaca sendiri. Ada yang saling menunjukkan gambar pada temannya. Suasana santai tanpa tekanan membuat mereka menikmati proses membaca. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa perpustakaan mampu beradaptasi. Tidak lagi identik dengan ruang sunyi dan kaku, melainkan ruang ramah yang membumi.
Upaya ini perlahan menunjukkan hasil. Berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan di Kalimantan Tengah.
Meski belum setinggi beberapa provinsi lain, tren kenaikan tersebut menjadi sinyal positif. Artinya, interaksi masyarakat dengan bahan bacaan mulai tumbuh.
Kehadiran perpustakaan keliling menjadi salah satu faktor pendukung. Dengan menjangkau berbagai titik, kesempatan masyarakat untuk bersentuhan dengan buku menjadi lebih besar.
Di CFD, pengunjung didominasi anak-anak. Hal ini menjadi peluang strategis, karena kebiasaan membaca paling efektif ditanamkan sejak dini. Dari kebiasaan kecil itulah budaya literasi dapat tumbuh.
Layanan perpustakaan keliling memang tidak memperbolehkan buku dipinjam untuk dibawa pulang. Seluruh koleksi dibaca di tempat demi menjaga keberlanjutan dan keamanan buku. Namun bagi yang ingin meminjam, koleksi serupa tersedia di perpustakaan utama. Sistem ini membuat perpustakaan keliling berfungsi sebagai pintu masuk, memantik ketertarikan sebelum masyarakat datang ke layanan tetap.
Strategi ini sejalan dengan konsep jemput bola. Buku tidak lagi menunggu disentuh, tetapi hadir aktif di tengah masyarakat.
Di sudut CFD itu, seorang anak tampak serius membalik halaman buku cerita bergambar. Di sampingnya, sang ibu tersenyum sambil sesekali membacakan teks dengan pelan. Interaksi sederhana itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi bisa menjadi awal dari kebiasaan panjang.
Dari 600 buku yang tersimpan di dalam mobil, ratusan cerita dan pengetahuan bergerak menyusuri jalanan Kota Palangka Raya. Ia tidak hanya membawa bacaan, tetapi juga harapan, bahwa budaya literasi akan terus tumbuh, satu halaman demi satu halaman. (ifa/ens)












