Titik Surya, Guru yang Membawa Karungut ke Anak-anak Kota
Di tengah hiruk-pikuk arena car free day (CFD) di Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya, Minggu (25/1/2026), terdengar alunan musik tradisional yang berbeda dari gemuruh kendaraan atau musik pop biasa. Itu adalah suara karungut, seni tutur klasik khas Dayak Kalimantan Tengah.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raua
DI balik alunan itu, ada sosok yang berdedikasi, Titik Surya, seorang guru sekolah dasar (SD) yang bertekad menjaga budaya leluhur tetap hidup.
Titik mengajar di SDN 6 Panarung, Palangka Raya, dan tak sekadar mengajar mata pelajaran umum. Ia juga menjadi guru ekstrakurikuler seni karungut, mengenalkan anak-anak pada kecapi, gong, suling, dan rabab alat musik yang mengiringi seni tradisional Dayak ini. “Tujuan kami adalah memelihara budaya daerah, khususnya karungut,” ujarnya tersenyum, Minggu (25/1/2026).
Setiap Kamis malam, Titik dan komunitasnya hadir di RRI Palangka Raya. Mereka menyiarkan musik karungut agar seluruh Indonesia, bahkan pendengar dari luar negeri, bisa mendengar. Selain itu, mereka rutin tampil di Keda Itah, Tangkiling, hingga bandara untuk menyambut kedatangan pesawat. “Kami ingin mengenalkan karungut ke masyarakat luas, bukan hanya di kota ini,” kata Titik.
Namun perjalanan Titik tidak selalu mulus. Terbentur waktu dan dana, dia belum bisa membawa karungut ke panggung nasional atau internasional. Meski begitu, semangatnya tetap tinggi.
Di sekolah, dia menanamkan cinta budaya kepada murid-muridnya. Untuk memastikan generasi muda bisa memainkan kecapi tali dua dan tiga, mengenal aksesoris tradisional seperti lawung, mandau, sangkarut, sumping, dan memahami cerita di balik setiap melodi.
“Pernah saya membawakan karungut di Jawa untuk acara pengantin,” kenangnya. Karena tamu tidak memahami bahasa Dayak, Titik mengadaptasi narasi ke bahasa Indonesia untuk menjaga pesan budaya tetap tersampaikan.
Dia percaya, pelestarian budaya bukan hanya soal mempertahankan bentuk fisik musik atau tarian, tapi juga membagi makna dan cerita di baliknya.
Bagi Titik, karungut lebih dari sekadar alat musik. Ini adalah jembatan antara generasi, cara bagi anak-anak Kota Palangka Raya untuk mengenal identitas mereka sendiri, dan sarana memperkenalkan dunia luar pada budaya Dayak.
Dengan setiap nada yang dimainkan di CFD atau kelas sekolah, Titik Surya bukan hanya mengajar musik, dia menjaga jiwa budaya tetap hidup.
Di tengah kota yang terus berubah, sosok seperti Titik mengingatkan bahwa budaya tradisional bukan hanya masa lalu yang tersimpan di museum. Dengan dedikasi dan cinta, dia menyalakan kembali seni karungut, memastikan anak-anak dapat tumbuh dengan akar budaya yang kuat, sambil tetap menatap masa depan. (ifa/ens)












