Lintang Diyand Permana, Dari Bait Puisi ke Panggung ASEAN
Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya populer, secercah harapan lahir dari tangan generasi muda yang memilih merawat identitas bangsa melalui karya sastra. Harapan itu datang dari Lintang Diyand Permana, pelajar SMP Islam Terpadu Al Ghazali Palangka Raya, yang menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional melalui puisi.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
LINTANG sukses meraih Nominasi ke-2 Penulis Terbaik dalam kategori Antologi Puisi Etnik Pelajar Antar Sekolah Menengah Pertama se-ASEAN. Tak berhenti di situ saja, namanya juga tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai 10 besar peserta Puisi Etnik Pelajar Nusantara tingkat Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Sebuah pencapaian luar biasa bagi pelajar yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Ajang bergengsi ini diselenggarakan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) dan berlangsung di Jambi pada 20 Desember 2025. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan kreativitas pelajar dari berbagai latar budaya, mempertemukan suara-suara muda dari Indonesia dan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 1.500 pelajar hasil kurasi ketat mulai dari jenjang SD hingga SMA, Lintang mampu tampil menonjol lewat puisinya berjudul “Kisah Persahabatan di Tanah Harapan”. Puisi tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potret nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan, dan toleransi yang dibingkai dalam nuansa etnik Nusantara.
Melalui bait-bait puisinya, Lintang mengajak pembaca menyelami makna persahabatan lintas perbedaan, sebuah pesan universal yang relevan di tengah masyarakat multikultural ASEAN. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, Lintang mampu menggambarkan harapan akan persatuan, kedamaian, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
Kepekaan Lintang dalam mengolah tema budaya dan sosial menjadi kekuatan utama karyanya. Ia berhasil membuktikan bahwa sastra pelajar tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan mampu bersaing dan diapresiasi di level internasional.
Prestasi yang diraih Lintang menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMP Islam Terpadu Al Ghazali Palangka Raya. Sekolah ini dikenal aktif mendorong anak didiknya untuk mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik, termasuk di bidang literasi dan seni. Keberhasilan Lintang menjadi bukti nyata bahwa dukungan lingkungan pendidikan memiliki peran besar dalam melahirkan generasi berprestasi.
Tak hanya mengharumkan nama sekolah, capaian ini juga membawa nama Kota Palangka Raya semakin dikenal di kancah internasional. Dari Bumi Tambun Bungai, karya seorang pelajar muda mampu menembus batas negara dan menyuarakan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Penghargaan MURI yang diraih Lintang semakin mempertegas arti penting prestasi ini. Ia tidak hanya menang secara personal, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah pencapaian pelajar Nusantara di tingkat ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa dengan ketekunan, kreativitas, dan keberanian berkarya, pelajar Indonesia mampu berdiri sejajar dengan generasi muda dari negara lain.
Prestasi Lintang diharapkan menjadi pemantik semangat bagi pelajar lainnya untuk terus membaca, menulis, dan berkarya. Dunia sastra bukanlah ruang yang jauh dari anak muda, melainkan wadah ekspresi yang mampu membentuk karakter, kepekaan sosial, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Dari sebuah puisi sederhana tentang persahabatan, Lintang Diyand Permana telah membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar. Kekuatan untuk menyatukan, menginspirasi, dan mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Sebuah kisah yang layak dikenang, sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda yang berani bermimpi dan berkarya. (ifa)












