Feature

Dari Limbah Jadi Berkah, Sekaligus Bekal Masa Depan

334
×

Dari Limbah Jadi Berkah, Sekaligus Bekal Masa Depan

Sebarkan artikel ini
PRODUKSI : Para siswa memproduksi salah satu olahan kewirausahaan program milik SMKN 1 Jelai, yakni mie tinta cumi yang diberi merek mie solid, baru-baru ini.FOTO DOKUMEN SMKN 1 JELAI/RADAR KALTENG

Melihat Inovasi Hasil Laut Siswa SMKN 1 Jelai

Di tangan siswa-siswi SMKN 1 Kuala Jelai, Kabupaten Sukamara, sesuatu yang kerap dianggap tak berguna justru menjelma menjadi produk bernilai ekonomi. Limbah kepala dan kulit udang yang biasanya dibuang begitu saja, diolah lagi menjadi petis dan kaldu bubuk dengan cita rasa khas. Dari sinilah lahir pelajaran berharga. Limbah bukan akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari peluang baru.

SITI NUR MARIFA, Sukamara

WILAYAH Jelai yang dikenal sebagai daerah pesisir dengan hasil laut melimpah menjadi sumber inspirasi bagi program kewirausahaan SMKN 1 Jelai. Melalui Jurusan Agribisnis Perikanan, sekolah ini mendorong siswanya untuk tidak hanya memahami teori, tapi juga mengolah potensi alam sekitar menjadi produk yang memiliki nilai jual.

“Wilayah Jelai kaya akan hasil laut. Kami berusaha memanfaatkan itu semaksimal mungkin. Termasuk limbahnya,” kata Endah Kustyorini, guru SMKN 1 Jelai yang aktif mendampingi program kewirausahaan, Senin (5/1/2026).

Salah satu inovasi yang menarik perhatian masyarakat adalah petis udang yang dibuat dari kepala dan kulit udang. Bahan yang sebelumnya dianggap sisa produksi, diolah dengan proses higienis dan kreatif menjadi produk kuliner yang diminati. Selain petis, siswa juga mengembangkan kaldu bubuk dari kulit udang, yang dapat dimanfaatkan sebagai penyedap alami.

Tak hanya petis, siswa juga berinovasi membuat berbagai produk olahan hasil laut lainnya. Seperti mie tinta cumi, nugget ikan tenggiri, dan nugget udang. Semua produk dibuat tanpa bahan pengawet dan mengedepankan penggunaan bahan alami, sehingga lebih sehat dan aman dikonsumsi.

Program ini merupakan bagian dari unit produksi Agro Fish Farming, salah satu unit kewirausahaan di SMKN 1 Jelai. Dalam kegiatan ini, siswa terlibat langsung mulai dari proses pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk. Guru berperan sebagai fasilitator dan pengawas. Sementara siswa menjadi aktor utama dalam setiap tahapan usaha.

Yang menarik, pendekatan kewirausahaan ini juga menanamkan kesadaran lingkungan kepada siswa. Mereka belajar bahwa pengolahan limbah dapat mengurangi pencemaran sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Konsep zero waste bukan lagi sekadar teori, tetapi dipraktikkan langsung dalam kegiatan sekolah.

Respons masyarakat terhadap produk-produk ini pun sangat positif. Melalui pemasaran daring di media sosial dan sistem pre-order, hampir setiap produksi selalu habis terjual. Bahkan, tak jarang pesanan melebihi kapasitas produksi yang hanya dilakukan pada jam sekolah.

“Kami senang karena produk kami disukai masyarakat. Itu membuat kami semakin semangat untuk berinovasi,” ungkap salah satu siswa yang terlibat dalam unit produksi.

Bagi SMKN 1 Jelai, program kewirausahaan ini bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bekal masa depan bagi para siswa. Sekolah berharap, pengalaman mengolah potensi lokal dan menciptakan produk bernilai jual ini dapat menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini.

Dari limbah menjadi berkah, dari sekolah menuju masyarakat. Apa yang dilakukan siswa SMKN 1 Jelai itu membuktikan bahwa dengan kreativitas dan keberanian berinovasi, potensi lokal bisa diolah menjadi peluang yang menjanjikan. Bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *