Pemerhati Pendidikan, Susanto, menilai penting sekali pernyataan Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) untuk ditindaklanjuti supaya larangan bermain game Roblox yang berpotensi membahayakan anak-anak tidak hanya menjadi pernyataan mengawang tanpa manfaat.
Susanto meminta Kemendikdasmen sebaiknya menindaklanjuti larangan bermain game Roblox dibuat lebih konkret dengan mengirimkan surat ditujukan ke sekolah-sekolah untuk kepala sekolah, komite sekolah, dan para guru aktif melakukan pengawasan sekaligus pemantauan guna memastikan anak-anak tidak lagi bermain game Roblox.
“Hemat saya perlu (ada surat ditujukan untuk sekolah-sekolah) agar punya daya cegah lebih baik,” kata Susanto kepada JawaPos.com, Rabu (6/8).
Pria yang juga mantan Ketua KPAI itu menilai, larangan game Roblox untuk anak-anak sudah sangat tepat. Sebab, konten game tersebut memuat kekerasan dan mengandung konten seksual, serta membahayakan anak bisa menjadi korban predator seksual orang dewasa.
“Hemat saya larangan Mendikdasmen terkait permainan game Roblox sudah tepat karena permainan tersebut berpotensi negatif terhadap tumbuh kembang anak,” tutur Susanto.
Dia juga mengatakan, anak terlalu sering terpapar adegan kekerasan, baik dalam bentuk permainan video game, film, televisi, atau yang lainnya, dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan otak anak berdasarkan berdasarkan hasil temuan ilmiah dan psikologis.
Misalnya, game bermuatan kekerasan dapat menurunkan fungsi pengendalian diri (prefrontal cortex) pada si anak.
“Prefrontal cortex adalah bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan perilaku sosial. Terpapar kekerasan secara terus-menerus bisa melemahkan kemampuan anak mengontrol impuls, meningkatkan perilaku agresif, dan menurunkan empati,” tuturnya.
Selain itu, anak yang terpapar kekerasan lewat game atau tayangan juga bisa membuat aktivasi berlebihan pada amygdala (pusat emosi).
“Amygdala berperan dalam respon emosi, terutama rasa takut dan agresi. Anak yang sering melihat atau bermain adegan kekerasan menunjukkan aktivasi amygdala yang lebih tinggi, yang berkaitan dengan kecemasan, ketakutan berlebihan, atau agresivitas,” tuturnya.
SUMBER : JAWA.POS










