PALANGKA RAYA – Kodam XXII/Tambun Bungai mengembangkan alat bor untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di lahan gambut yang jauh dari sumber air.
Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin mengatakan alat bor manual tersebut digunakan untuk menjangkau titik bara di dalam tanah.
“Tim bor ini bekerja secara manual. Kodam sudah membuat alat khusus untuk lahan yang jauh dari air,” ucapnya saat bertemu awak media, Minggu (11/10/2026).
Pertemuan tersebut dihiasi rasa kekeluargaan. Bukan sekadar jumpa pers, namun ajang menyatukan hati untuk satu tujuan, yakni agar Kalimantan Tengah bisa segera bernapas lega.
Kodam juga mengembangkan bor mekanik yang dapat mengebor hingga kedalaman 100 meter. Peralatan tersebut disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla dan kebutuhan air di wilayah yang mengalami kekeringan, seperti Buntok, Muara Teweh, dan Katingan. Menurut Pangdam, personel dilatih merakit dan mengoperasikan peralatan tersebut agar dapat digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Inovasi ini bukan hanya manual saja, ada bor mekanik yang sudah dibuat Kodam untuk mengatasi kekeringan di Buntok, Muara Teweh, Katingan, yang terdampak langsung kekeringan. Alat ini mampu mengebor hingga kedalaman 100 meter. Anggota harus belajar merakit alat ini, sehingga Pemda mana yang butuh, kita tinggal buatkan untuk kepentingan masyarakat,” tambahnya.
Penanganan karhutla dilakukan melalui pemadaman, pendinginan, dan pengeboran. Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) dikerahkan dalam sejumlah tim. Operasi Modifikasi Cuaca juga dilakukan, sementara satu helikopter water bombing disiagakan di Kabupaten Pulang Pisau.
“Saat ini situasi Karhutla masih menjadi perhatian kita bersama. Upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus kita upayakan agar hujan segera turun, dan 1 unit Heli Water Bombing juga sudah kita siagakan di Pulang Pisau untuk percepatan pemadaman,” ujar Pangdam.
Selain itu, angin berkecepatan sekitar 2 knot membuat asap sulit bergerak dan menumpuk di sejumlah wilayah. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan mengajak media turut mengedukasi warga tentang pencegahan karhutla.
“Kegiatan membakar di hutan dan lahan mesti dihentikan. Kasihan masyarakat kita, anak-anak kita, kesehatannya terganggu. titik api sebenarnya sudah berkurang, hanya karena angin sangat kecil sehingga asap mengumpul dan terlihat pekat,” pungkas Mayjen TNI Zainul Arifin. (ter)












