FeatureKalimantan Tengah

Asap Menembus Pesawat, Saksikan Langsung Karhutla

348
×

Asap Menembus Pesawat, Saksikan Langsung Karhutla

Sebarkan artikel ini
DI KALTENG : Sherina Munaf saat berada di Kalimantan Tengah dan menyaksikan langsung kebakaran hutan dan lahan, beberapa waktu lalu. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Perjalanan Aktris Sherina Munaf ke Kalteng

Perjalanan Sherina Munaf menuju Kalimantan Tengah (Kalteng) kali ini bukan perjalanan biasa. Belum sempat menjejakkan kaki di daratan, aktris sekaligus aktivis lingkungan itu sudah lebih dulu berhadapan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

DARI dalam pesawat, bau asap sudah tercium. Udara yang seharusnya menjadi ruang aman selama penerbangan justru dipenuhi aroma asap. Penyanyi bernama lengkap Sinna Sherina Munaf ini bahkan harus mengenakan masker karena tenggorokannya terasa gatal. Pengalaman tersebut ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya @Sherinamunaf saat menceritakan perjalanannya menuju Palangka Raya.

Penerbangan dari Jakarta yang seharusnya boarding sekitar pukul 11.15 WIB itu mengalami keterlambatan. Bukan tanpa alasan. Pekatnya asap membuat jarak pandang di sekitar wilayah tujuan menjadi persoalan tersendiri. “Ada kesulitan visibilitas jadi asap tebal sekali, dikhawatirkan nanti landing susah,” ujar Sherina.

Bagi penumpang biasa, keterlambatan penerbangan mungkin hanya berarti harus menunggu lebih lama di bandara. Namun bagi aktris kelahiran Bandung 11 Juni 1990 ini, perjalanan tersebut justru menjadi pengalaman pertama melihat langsung betapa seriusnya dampak karhutla yang melanda Kalteng.

Ketika pesawat mulai melakukan descending untuk mendarat, pemandangan dari balik jendela perlahan berubah. Daratan yang sebelumnya terlihat jelas mulai tertutup warna keruh. Pandangan semakin terbatas hingga hampir tidak ada lagi yang bisa dilihat. Sherina sempat mengira kondisi tersebut merupakan awan. Ternyata bukan. “Ketika mulai descending untuk landing mulai keruh sampai tidak kelihatan apa-apa. Itu bukan awan, tapi itu adalah asap,” ungkapnya.

Daratan Kalimantan baru kembali terlihat ketika pesawat semakin mendekati permukaan. Tapi satu hal masih tertinggal di dalam kabin, bau asap. “Bau asap itu sampai masuk ke dalam pesawat. Aku langsung menggunakan masker karena terasa gatal (di tenggorokan),” ujarnya.

Bagi Sherina, pengalaman tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana asap karhutla telah menguasai ruang udara hingga mengganggu perjalanan udara. Apa yang dirasakan dalam pesawat hanyalah awal dari perjalanan panjangnya di Kalteng.

Setibanya di Palangka Raya, Sherina tidak memilih beristirahat panjang. Perjalanannya langsung berlanjut menuju Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, dekat Bundaran Besar.

Di tempat tersebut, dia bertemu para petugas yang tengah berada di garis depan penanganan karhutla. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan api, panas, asap, dan medan yang tidak mudah.

Sherina datang untuk melihat sekaligus memberikan dukungan, bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), dia turut memberikan bantuan logistik kepada para petugas yang bekerja di lapangan.

Kehadiran putri dari pasangan Triawan Munaf dan Luki Ariani ini juga menjadi bentuk dukungan moral bagi mereka yang harus terus berjibaku memadamkan api ketika sebagian besar masyarakat mungkin sudah berada di rumah.

Bagi keponakan penyanyi dan musikus legendaris Indonesia, Fariz Rustam Munaf  ini, karhutla memang tidak selalu terlihat dalam bentuk kobaran api besar. Di sejumlah lokasi, api bisa saja sudah berhasil dipadamkan. Namun persoalan belum tentu selesai.

Hal tersebut kembali dilihat Sherina ketika perjalanan dilanjutkan menuju BKSDA. Saat melintas di jalan lingkar luar Kota Palangka Raya, dia melihat lokasi yang sebelumnya terbakar.

Api utama memang sudah padam. Tapi bekas kebakaran masih terlihat. Begitu pula dengan sejumlah titik api kecil yang masih menyisakan potensi bahaya. “Jika ada angin kencang akan bisa menyebabkan api kembali muncul,” ujarnya.

Titik-titik kecil itulah yang kemudian membuat Sherina semakin melihat bahwa persoalan karhutla tidak sesederhana memadamkan api yang terlihat. Ada bara yang harus dipastikan benar-benar mati, dan ada lahan yang harus dipantau serta ada potensi api kembali membesar ketika cuaca dan angin mendukung.

Salah satu hal yang paling membuat Sherina prihatin adalah dampak asap yang menurutnya sangat besar meski berasal dari titik api yang terlihat kecil. Dia melihat sendiri bagaimana titik api tersebut menghasilkan asap pekat. “Jadi aku melihat api kecil itu saja impact asapnya sudah terlalu parah dan aku tidak membayangkan warga asli sana terdampak seperti apa,” akuinya.

Pernyataan tersebut menunjukkan perhatian Sherina tidak berhenti pada apa yang terlihat di lokasi kebakaran. Di balik kepulan asap, ada masyarakat yang harus tetap menjalani aktivitas sehari-hari.

Ada anak-anak yang harus bersekolah, ada orang tua yang harus bekerja, ada masyarakat yang harus menghirup udara yang kualitasnya terganggu serta ada kelompok rentan yang mungkin merasakan dampaknya jauh lebih berat.

Apa yang dilihat Sherina dari perjalanan udara kemudian menemukan gambaran yang lebih nyata ketika dia berada di daratan.

Dari atas, Kalteng tampak tertutup kabut, dari bawah, asap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Kunjungan Sherina ke Kalteng tidak hanya berkaitan dengan penanganan karhutla. Sebagai sosok yang selama ini aktif menyuarakan isu lingkungan, kedatangannya juga berkaitan erat dengan upaya perlindungan satwa. Khususnya orang utan.

Sherina dijadwalkan mengunjungi pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation di Nyaru Menteng. Di tempat tersebut, dia ingin melihat langsung kondisi sekolah hutan yang berada di tengah situasi kepungan asap.

Sekolah hutan menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi orang utan sebelum nantinya mereka dapat kembali ke habitatnya. Namun ketika lingkungan sekitar menghadapi karhutla dan asap, keselamatan satwa juga menjadi perhatian.

Sherina ingin melihat bagaimana langkah-langkah preventif dilakukan BOSF untuk menjaga sekitar 200 individu orang utan yang berada di pusat rehabilitasi tersebut.

Kehadiran asap membuat persoalan karhutla menjadi lebih luas. Bukan hanya manusia yang harus dilindungi, satwa yang berada dalam kawasan terdampak juga membutuhkan perhatian. Terlebih orang utan yang berada di pusat rehabilitasi tersebut tengah menjalani proses panjang untuk kembali hidup di alam.

Setelah dari kawasan BKSDA dan Nyaru Menteng, perjalanan Sherina masih berlanjut. Mantan istri Baskara Mahendra itu dijadwalkan menuju Tambora, lokasi yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kota Palangka Raya. Perjalanan menuju lokasi tersebut menjadi bagian lain dari upayanya melihat langsung bagaimana penanganan karhutla dilakukan.

Di Tambora, Sherina dijadwalkan menyaksikan para pemadam yang bekerja membuat sumur untuk mendukung upaya penanganan kebakaran. Pekerjaan tersebut bahkan dilakukan hingga dini hari.

Sherina datang ke Kalteng bukan sekadar membawa nama sebagai seorang aktris. Dia datang sebagai aktivis lingkungan yang ingin melihat sendiri apa yang terjadi di lapangan.

Dari asap yang masuk ke kabin pesawat hingga perjuangan pemadam di tengah lahan terbakar, perjalanan tersebut memperlihatkan satu kenyataan: karhutla tidak berhenti pada kobaran api. Dampaknya bisa menjalar jauh. Bahkan sampai ke udara yang dihirup dan ruang hidup manusia serta satwa. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *