DPRD Kalimantan Tengah

‎Tumbang Nusa Miliki Palung Gambut yang Dalam

56
×

‎Tumbang Nusa Miliki Palung Gambut yang Dalam

Sebarkan artikel ini
‎FOTO : Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan‎BUDHI SEPRATAMA PUTRA//RADAR KALTENG

‎PALANGKA RAYA – DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut diperlukan Teknik pemadaman secara khusus. Karakteristik lahan gambut itu menyimpan api di bawah permukaan.

Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan menjelaskan, api pada kebakaran gambut sering kali tidak terlihat di permukaan karena membakar lapisan tanah di bagian bawah. Akibatnya, meski permukaan tampak sudah padam, bara api masih dapat terus menjalar. Itulah yang memicu munculnya asap dalam waktu yang lama.

Ia ‎mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah gambut, termasuk Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau.

“Karakteristik Tumbang Nusa memiliki gambut yang dalam, ada palung gambut dengan kedalaman di atas tiga meter, bahkan sampai lima meter. Karena itu pola penanganannya juga khusus, berbeda dengan kebakaran yang terjadi pada umumnya,” ujarnya, Selasa (4/8).

‎Menurut Bambang, teknik pemadaman menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan penanganan karhutla di lahan gambut. “Kalau kebakaran biasa kan yang terbakar di atas. Nah, ini justru yang berbahaya ada di bawah. Yang harus dibasahi itu bagian dalamnya, bukan hanya disiram di permukaan,” katanya.

‎Ia mengingatkan pembasahan gambut tidak boleh dilakukan setengah-setengah karena justru dapat memperparah kemunculan asap. “Kalau basahnya nanggung, asapnya malah lebih banyak. Jadi air harus benar-benar masuk sampai ke lapisan gambut yang terbakar supaya apinya padam tuntas,” tegas Bambang.

‎

‎DPRD Kalteng mendorong pemerintah bersama seluruh unsur penanggulangan bencana terus menyesuaikan metode pemadaman dengan karakteristik lahan gambut. Penggunaan peralatan yang tepat, ketersediaan sumber air, serta koordinasi antarinstansi dinilai menjadi kunci agar penanganan karhutla lebih efektif sekaligus meminimalkan dampak kabut asap bagi masyarakat dan lingkungan.(sep/*)

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *