PLN Didesak Terbuka, Kualitas Udara Mulai Masuk Kategori Tidak Sehat
PALANGKA RAYA – Gelapnya negara namun sesaknya ditanggung rakyat. Mungkin kata itu kini sesuai bagi keresahan rakyat akibat pemadaman listrik bergilir yang kembali terjadi dan harus disusul pada ancaman lain yang tak kalah serius.
Ya, kabut asap. Kini mulai menyelimuti Kota Palangka Raya seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), membuat kualitas udara memburuk dan mengancam kesehatan masyarakat.
Dua persoalan yang datang bersamaan itu memicu sorotan masyarakat tak terkecuali pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kota Palangka Raya sama-sama mendesak PT PLN (Persero) segera membuka penyebab gangguan listrik sekaligus menyampaikan jadwal pemadaman secara terbuka agar masyarakat tidak terus hidup dalam ketidakpastian di tengah ancaman musim asap.
Pemadaman yang berlangsung berjam-jam dalam beberapa hari terakhir telah mengganggu aktivitas rumah tangga, dunia usaha, hingga pelayanan publik. Di sisi lain, memburuknya kualitas udara akibat karhutla mulai memaksa pemerintah menyiapkan langkah antisipasi kesehatan apabila kondisi terus memburuk.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah H Edy Pratowo menegaskan, keterbukaan informasi dari PLN menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui penyebab gangguan agar tidak terus berspekulasi sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak.
“Saya kira keterbukaan informasi publik dari pihak PLN sangat perlu. Kita harus bisa menerima masukan dari berbagai pihak dan masyarakat. Keterbukaan ini sangat penting dalam rangka evaluasi dan koreksi diri,” ujarnya, Sabtu (25/7).
Edy menilai listrik telah menjadi kebutuhan vital yang menopang hampir seluruh aktivitas masyarakat. Karena itu, pelayanan kelistrikan, termasuk penyampaian informasi mengenai gangguan dan jadwal pemadaman, harus menjadi perhatian utama.
Ia mengaku hingga kini belum menerima laporan resmi dari manajemen PLN terkait penyebab pemadaman bergilir yang kembali terjadi. Pemerintah Provinsi, lanjutnya, akan melakukan pengecekan terhadap kendala yang terjadi.
“Sepanjang pasokan listrik tersedia dan sumber tenaga mencukupi, termasuk bahan bakarnya, kita berharap PLN tidak melakukan pemadaman,” tegasnya.
Senada, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin meminta PLN segera memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat mengenai penyebab maupun jadwal pemadaman. Kepastian informasi dinilai penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan tidak terus dihantui ketidakpastian.
“Yang pertama, informasi dulu kepada warga. Kalau ada pemadaman yang dilanjutkan, mohon dari pihak PLN memberikan statement supaya membuat ketenangan di masyarakat. Masyarakat perlu mengetahui ini kenapa dan jadwalnya seperti apa,” katanya.
Sementara persoalan listrik belum menemukan titik terang, ancaman kabut asap mulai nyata dirasakan masyarakat. Senin (27/7) pagi, kualitas udara di Palangka Raya memburuk. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 138 mikrogram per meter kubik (µg/m³) atau berada pada kategori tidak sehat.
Langit tampak berkabut, bau asap mulai tercium, bahkan abu sisa pembakaran terlihat beterbangan di sejumlah ruas jalan. Pemerintah pun mulai menyiapkan rumah singgah oksigen sebagai langkah antisipasi apabila kondisi semakin memburuk.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini, mengatakan kualitas udara di Pangkalan Bun masih berada pada kategori baik, sedangkan Palangka Raya telah memasuki kategori tidak sehat.
“Sejak pukul 00.00 hingga 08.00 WIB, kualitas udara di Pangkalan Bun masih berada pada kategori baik. Sementara di Kota Palangka Raya, konsentrasi PM2.5 mencapai 138 mikrogram per meter kubik sehingga masuk kategori tidak sehat,” jelasnya.
BMKG mengingatkan tingginya kadar PM2.5 berbahaya karena partikel halus dapat masuk hingga ke paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas.
Ancaman tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya masih menjadi daerah dengan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi, mencapai 12.394 kasus, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 12.023 kasus, dan Kabupaten Kapuas 9.602 kasus.
Di tengah musim kemarau, masyarakat kini menghadapi dua persoalan sekaligus: ketidakpastian pasokan listrik dan ancaman kabut asap. Kondisi itu membuat harapan publik tertuju pada langkah cepat seluruh pihak, baik dalam menjamin keandalan pelayanan kelistrikan maupun mengendalikan karhutla agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (ter/rdo/ens)












