Desa Bumi Harjo terletak di hulu Kecamatan Kumai yang berjarak 18 kilometer dari pusat kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Desa yang menjadi salah satu pintu masuk logistik ini, tak pernah sepi dilintasi truk-truk pengangkut barang dari Pelabuhan Bumiharjo Bagendang, PT Pelindo Multi Terminal.
Sebagai jalur transit, warga pendatang silih berganti masuk. Sebagian ada yang hanya singgah, meski tak sedikit pula yang menetap.
Tingginya mobilitas penduduk ini membuat proses pembangunan tidak mudah dilalui. Meski begitu, desa Bumi Harjo ternyata menyimpan segudang prestasi.
Salah satu pencapaian terbaru, Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Mekar Sari di desa tersebut, sukses menyabet Juara II Kategori Daerah Prioritas Sasaran Pembangunan/Wilayah Tertinggal pada perlombaan yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga).
Bagi Kepala Desa (Kades) Bumi Harjo, Sunardi, capaian itu bukanlah tujuan yang sedari awal dikejar. Ia bahkan tak pernah membayangkan sebelumnya bisa lolos ataupun mewakili Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) di panggung nasional.
“Ini kali pertama Kampung KB Mekar Sari, Desa Bumi Harjo ikut serta lomba. Saya belum sempat berpikir sampai masuk nominasi seleksi di tingkat regional, apalagi nasional. Alhamdulillah ternyata lolos,” ujarnya saat dihubungi Radar Kalteng via WhatsApp, beberapa hari lalu.
Kampung KB Mekar Sari dicanangkan pada 18 Oktober 2018. Sejak saat itu, wilayahnya kian mencatat peningkatan klasifikasi, mulai dari dasar, berkembang, mandiri, sampai berkelanjutan (paripurna). Klasifikasi ini mencerminkan sejauh mana kemajuan dan kinerja pelaksanaan program Kampung KB di lapangan.
Selama enam tahun menjabat, Sunardi fokus memastikan seluruh program benar-benar hadir, bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif, sekalipun target perlombaan. Menurutnya, Kampung KB Mekar Sari dibentuk atas respons kebutuhan masyarakat.
“Kami mengalir apa adanya. Program berjalan bukan karena lomba. Yang penting bagi kami adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat agar taraf hidup keluarganya berkualitas,” ucap Kades yang dilantik pada Oktober 2019 ini.
Di desa yang berpenduduk lebih dari 5.600 jiwa, tiga Posyandu berdiri di garda terdepan. Dalam menjaga tumbuh kembang anak, para kadernya tak selalu harus menunggu ibu dan si kecil menghampiri. Ketika ada yang tidak hadir, mereka siap jemput bola.
“Ketika kader melapor ada yang tidak datang ke Posyandu, saya selalu tanya sudah berapa kali absen, cari tahu apa alasannya. Jika perlu dipantau langsung ke rumah yang bersangkutan,” tutur Sunardi.
Ia mengaku kadernya ‘gercep’ alias bergerak cepat apabila dibutuhkan. Begitu ada ibu hamil baru, pendampingan segera diberikan.
“Kader kami gercep. Mereka memantau betul terkait perkembangan ibu hamil yang memang sudah jadi tanggung jawabnya,” katanya.
Jauh sebelum bayi lahir, calon pengantin diedukasi. Ibu hami dan menyusui dipantau status gizi dan kesehatannya. Sementara keluarga yang berisiko stunting didampingi ketat bersama tenaga kesehatan, termasuk dari warga pendatang yang tak memiliki identitas kependudukan.
“Ada pendatang yang tidak membawa identitas, kami tetap mengupayakan penanganan stunting. Yang terbaru kemarin dari Jawa, kami bantu mengurus proses administrasinya. Setelah dinyatakan membaik mereka balik ke daerahnya,” ungkap Sunardi.
Di samping itu, pendampingan khusus orang tua diperoleh melalui Bina Keluarga Balita (BKB), tempat di mana mereka memahami tahapan tumbuh kembang dan cara stimulasi yang tepat untuk perkembangan fisik, kecerdasan, emosional, dan sosial si balita.
Tak berhenti di sana, lanjut Kades, para orang tua di wilayahnya dibekali pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga, serta keterampilan pola asuh ataupun cara berkomunikasi yang efektif kepada anak remajanya. Semua ini diperoleh dalam kelompok kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR).
Adapun, remaja berusia 10–24 tahun diwadahi ruang belajar dan berkegiatan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Di sanalah mereka bebas mengembangkan potensi, membangun karakter, dan merancang masa depan, serta membentengi diri dari bahaya rokok dan penyalahgunaan NAPZA.
Tak hanya itu, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) secara progresif menguatkan peran ayah dalam pengasuhan. Di saat yang sama, program Lansia Berdaya (SIDAYA) dan Bina Keluarga Lansia (BKL), warga lanjut usia didorong aktif, sehat, dan mandiri. Sedangkan, sang keluarga disiapkan ilmu serta keterampilan untuk mendampingi mereka agar semangatnya tetap terjaga dan berdaya guna.
Di sektor ekonomi, warga membuktikan bahwa kemandirian keluarga bisa tumbuh dari potensi desa. Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) di desa menghasilkan berbagai produk olahan, diantaranya jamu tradisional, keripik, serta batu bata yang memasok kebutuhan sejumlah kabupaten di Kalteng. Khusus jamu tradisional, racikan turun-temurun tak hanya menambah penghasilan keluarga, tetapi ikut menghidupkan kembali kebiasaan mengonsumsi bahan-bahan alami menyehatkan yang mudah ditemui di sekitar.
Di sudut-sudut desa, masyarakatnya mulai terbiasa menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dan aneka sayuran. Kebiasaan baik ini menjadi cara sederhana menghadapi harga bahan pokok yang berfluktuasi di pasaran.
“Soal ketahanan pangan keluarga, desa kami punya kolam bioflok budidaya ikan. Ada juga bantuan sapi dari pemerintah yang cukup memenuhi kebutuhan protein hewani,” imbuh Sunardi.
Persoalan lain yang tak kalah penting ialah sanitasi. Pemerintah desa saling bersinergi dengan multi sektor demi memperluas akses air bersih, membangun MCK, serta mendukung program rehabilitasi rumah tidak layak huni.
“Pemerintah mengupayakan tersedianya sarana sanitasi yang layak. Kami bersyukur, tiga tahun berturut-turut mendapatkan bantuan sekitar 222 unit MCK dan 50 unit rehab rumah. Air bersih PDAM pun sudah masuk, walau belum tercover semua,” terangnya.
Sunardi meyakini kebiasaan-kebiasaan positif warga yang konsisten mengantarkan keberhasilan Kampung KB Mekar Sari. Ia berharap, keluarga berkualitas di masyarakat akan selalu menjadi bagian di setiap langkah pembangunan desa.
“Program yang baik tidak akan berarti tanpa partisipasi masyarakat. Kalau semua saling bergerak, program apa pun akan lebih mudah berjalan sesuai harapan,” tegasnya.
Selain masyarakat yang aktif mengikuti setiap program, perjalanan panjang Kampung KB Mekar Sari ditempuh melalui gerak kolaboratif antara pengurus RT, kader, penyuluh, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, organisasi perangkat daerah, lembaga sosial, hingga dunia usaha. Selama tujuh tahun lebih, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Kobar serius membina dan mengevaluasi keberlangsungan program Kampung Keluarga Berkualitas yang ada di wilayahnya.
Bukanlah sesuatu yang instan digapai, prestasi Kampung KB di Kabupaten Kobar merupakan buah dari penantian yang lama. Usai empat tahun berturut-turut mewakili Provinsi Kalteng, capaian membanggakan akhirnya terwujud untuk yang pertama kalinya di tahun 2026 ini.
“Dari tahun 2022 sampai 2025, Kabupaten Kobar selalu jadi yang terbaik pertama di tingkat provinsi. Namun, baru kali ini bisa menembus juara tiga besar nasional mewakili Kalteng,” ucap Kepala DP3AP2KB Kobar, Abimayu, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/7/2026).
Faktanya tak semua Kampung KB layak mengikuti perlombaan. Hanya desa-desa berklasifikasi Kampung KB mandiri dan berkelanjutan yang berhak diikutsertakan. Menurut Abimayu, Desa Bumi Harjo tak saja memenuhi persyaratan, tapi juga ternilai unggul dalam pemenuhan indikator Kampung Keluarga Berkualitas.
“Desa ini telah lolos terseleksi secara berjenjang. Ada empat sasaran utama yang dinilai, yakni penyediaan data dan dokumen kependudukan, perubahan perilaku, peningkatan cakupan layanan dan rujukan keluarga, serta penataan lingkungan,” terangnya.
Abimayu mengutarakan, Desa Bumi Harjo mempunyai kelengkapan administrasi kependudukan yang tertata baik di Rumah Dataku (Rumah Data Kependudukan). Seluruh data terdigitalisasi melalui sistem berbasis website dan dikerjakan oleh tenaga terampil bidang teknologi informasi.
Kekuatan Desa Bumi Harjo bukan semata terukur pada penyediaan data dan dokumen kependudukan. Lebih dari itu, kreativitas tumbuh di Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), program yang menghadirkan senyum harapan bagi keluarga berisiko stunting. Sumber pangan lokal disulap menu bergizi bakso ikan haruan sebagai inovasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
“Alternatif pangan tinggi protein disiapkan menunya untuk balita, ibu hamil, dan menyusui. Ikhtiar ini pun perlahan menekan angka stunting di Desa Bumi Harjo. Sebelumnya ada tiga kasus yang kami catat, kini di pertengahan tahun sisa satu. Itu pun dari keluarga pendatang,” tambah Abimayu.
Keberhasilan Kampung KB di desa juga ditopang atas tingginya partisipasi program Bangga Kencana. Berdasarkan sumber statistik Kemendukbangga, kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keluarga mengaktifkan sebanyak 811 pasangan peserta KB dari total 1.128 pasangan usia subur (PUS).
Di balik keberhasilan juara nasional Kampung Keluarga Berkualitas Mekar Sari, sesungguhnya tak ada jalan pintas. Hari demi hari, waktu ke waktu proses yang dilalui, Desa Bumi Harjo meninggalkan cerita tentang arti masa depan yang dibangun atas nama keluarga.
Prestasi ini bukanlah penutup cerita, melainkan tiket menuju kemajuan pembangunan. Gelar juara pun bukan menjadi akhir perjalanan, tetapi momentum bagi desa-desa maupun kelurahan lain untuk memilih bangkit bersama.
“Bukan prestasi yang satu-satunya kami harapkan, tetapi semangat keberlanjutannya. Kami ingin Kampung KB Mekar Sari terus menjadi contoh dan inspirasi bagi kampung-kampung lainnya. Sebab, pada akhirnya pembangunan besar tidak tercapai tanpa dimulai dari keluarga yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera,” harap Abimayu.
(fit)












