Feature

Demi Masa Depan Anak, Melawan Batas dari Kursi Roda

656
×

Demi Masa Depan Anak, Melawan Batas dari Kursi Roda

Sebarkan artikel ini
LAYANI PEMBELI : Rohaimi (45), penyandang disabilitas sekaligus pedagang es krim chocolatos sedang melayani pembeli di car free day, Kota Palangka Raya, Minggu (14/6/2026). IFA/RADAR KALTENG

Rohaimi, Penyandang Disabilitas yang Tak Menyerah oleh Keadaan

Di tengah keramaian car free day (CFD), Kota Palangka Raya, seorang pria dengan kursi roda tampak sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan mengambil es krim dari dalam kotak pendingin, lalu menyerahkan kepada pelanggan yang datang silih berganti. Di sampingnya terpasang papan kecil berisi dagangan yang ia jual es krim chocolatos seharga Rp 5.000 per tusuk.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

PRIA itu adalah Rohaimi (45), seorang penyandang disabilitas fisik yang memilih terus bekerja dan mandiri di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapinya.

Bagi sebagian orang, kursi roda mungkin identik dengan ketergantungan. Namun bagi Rohaimi, kursi roda justru menjadi saksi perjuangannya mencari nafkah untuk keluarga. Setiap akhir pekan, ia berjualan di kawasan car free day. Sementara pada malam hari, ia membuka lapak di kawasan Bundaran Besar, Palangka Raya.

Sebelum menjual es krim, Rohaimi telah mencoba berbagai jenis usaha. Ia pernah berjualan aksesori. Kemudian beralih menjual kerupuk selama sekitar dua tahun. Namun usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Kerupuk yang tidak habis terjual sering kali tersisa dan akhirnya rusak. Kerugian akibat barang dagangan yang tidak tahan lama membuatnya berpikir mencari usaha dengan risiko yang lebih kecil. “Sering ada sisa, tidak bagus lagi kalau dijual. Jadi saya berpikir bagaimana caranya jualan yang tidak banyak risikonya,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Inspirasi datang ketika ia sering menonton berbagai video di YouTube. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah es krim chocolatos yang sempat viral. Dari situlah ia mulai belajar membuat sendiri dan mencoba menjual sejak 2025.

Meski baru sekitar satu tahun menjalani usaha tersebut, Rohaimi mengaku penghasilannya tidak jauh berbeda dibandingkan usaha sebelumnya. Namun menurutnya, usaha es krim lebih aman karena risiko kerusakan produk lebih kecil.

Setiap kali berjualan, jumlah dagangan yang laku tidak menentu. Kadang ia mampu menjual puluhan tusuk, tetapi ada kalanya pembeli sepi. Pada pekan sebelumnya, misalnya, sekitar 25 tusuk es krim berhasil terjual.

Di acara-acara tertentu, hasil yang diperoleh bisa jauh lebih baik. Ia mengenang saat berjualan dalam sebuah kegiatan besar yang digelar pemerintah daerah. “Waktu acara itu saya jualan di pintu masuk. Bawa sekitar 70 sampai 80 tusuk habis semua,” kenangnya.

Di balik aktivitas berjualannya, tersimpan cerita perjuangan yang lebih besar. Rohaimi tidak hanya hidup sebagai penyandang disabilitas, tetapi juga menjadi kepala keluarga bagi istri dan dua orang anaknya.

Yang membuat kisah ini semakin istimewa, sang istri juga merupakan penyandang disabilitas fisik dan menggunakan kursi roda. Meski demikian, pasangan tersebut tidak memilih bergantung kepada orang lain.

Sang istri mengisi waktu di rumah dengan membuat berbagai kerajinan tangan. Seperti gelang dan aksesori yang dijual berdasarkan pesanan. Dalam beberapa acara yang digelar pemerintah, hasil kerajinannya juga berhasil menarik minat pembeli. “Kemarin ikut acara dua hari, Alhamdulillah gelang yang dibawa laku,” kata Rohaimi.

Kemandirian menjadi prinsip yang terus mereka pegang. Untuk mendukung aktivitas sehari-hari, Rohaimi menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi agar dapat membawa kursi rodanya. Dengan kendaraan tersebut ia dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencari rezeki.

Meski demikian, perjalanan mencari nafkah tidak selalu mudah. Cuaca menjadi tantangan yang paling sering dihadapi. Hujan dapat membuat pembeli berkurang drastis sehingga dagangan tidak laku. “Kalau hujan kadang tidak laku. Itu salah satu dukanya,” akuinya.

Selain cuaca, ia juga harus memastikan es krim tetap beku selama berjualan. Keterbatasan kapasitas tempat penyimpanan membuatnya tidak bisa membawa terlalu banyak stok karena es batu mudah mencair.

Namun berbagai kendala tersebut tidak membuatnya menyerah. Semangat itu telah tumbuh sejak ia menempuh pendidikan di Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat (RSC) Solo. Di sana ia belajar bersama penyandang disabilitas fisik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya dan berusaha. Kini, seluruh perjuangannya bermuara pada satu harapan besar, masa depan kedua anaknya.

Anak pertamanya saat ini duduk di bangku kelas VIII. Sementara anak keduanya masih kelas II sekolah dasar. Bagi Rohaimi, setiap tusuk es krim yang terjual bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan bagian dari perjuangan agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik. “Harapan saya bisa menyekolahkan anak sampai berhasil. Supaya mereka punya masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Kalimat itu terucap sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Dari balik keterbatasan fisik yang dimilikinya, Rohaimi terus berusaha membangun masa depan keluarganya. Kursi roda yang ia gunakan setiap hari bukanlah simbol kelemahan, melainkan bukti bahwa semangat dan kerja keras dapat membawa seseorang melampaui batas yang sering kali diciptakan oleh keadaan.

Di tengah masyarakat yang masih kerap memandang penyandang disabilitas sebagai kelompok yang bergantung pada bantuan, Rohaimi menunjukkan hal berbeda. Dari atas kursi rodanya, ia terus bergerak, bekerja, dan menanam harapan, satu tusuk es krim Rp 5.000 pada satu waktu. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *