Feature

Punya Batas Bertahan, Maka Perlu Menjaga Lingkungan

206
×

Punya Batas Bertahan, Maka Perlu Menjaga Lingkungan

Sebarkan artikel ini
SAMPAIKAN PESAN : Kepala Kantor Kemenag Kotim Nur Widiantoro saat menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat dalam perannya di muka bumi. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Dari Pohon hingga Laut, Amanah Menjaga Bumi yang Kerap Dilupakan Manusia

‎Angin tak lagi selalu sejuk. Musim datang tak menentu. Sungai yang dulu jernih perlahan berubah keruh, sementara hutan yang dahulu lebat kini menyisakan tanah-tanah terbuka. Di berbagai tempat, alam seolah sedang memberi tanda bahwa ada yang tidak lagi berjalan seimbang.

‎‎SINDY APRIANSYAH, Sampit

‎DI tengah kenyataan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Nur Widiantoro mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan peran manusia yang sejatinya tidak diciptakan hanya untuk menikmati bumi, tetapi juga menjaganya.

‎“Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi. Artinya manusia diberi amanah untuk mengelola, memakmurkan dan menjaga bumi ini dengan baik,” ujar Widiantoro, Selasa (12/5/2026) lalu.

‎Pesan itu, katanya, bukan sekadar nasihat agama, melainkan peringatan tentang tanggung jawab besar manusia terhadap kehidupan. Sejak zaman Nabi Adam hingga generasi hari ini, manusia terus memanfaatkan hasil bumi untuk bertahan hidup dan berkembang.

‎Dari tanah, manusia menanam padi dan palawija. Dari perut bumi, manusia mengambil besi, minyak dan berbagai sumber daya lain untuk membangun peradaban. Jalan raya dibangun, kendaraan bergerak, industri berkembang. Semua berasal dari alam yang sama.

‎Namun di balik kemajuan itu, manusia kerap lupa bahwa bumi juga memiliki batas untuk bertahan. Hutan ditebang tanpa kendali, sungai dicemari limbah, laut dipenuhi sampah, udara perlahan kehilangan kesegarannya. Alam yang semestinya menjadi rumah bersama justru rusak oleh tangan manusia sendiri. “Allah juga mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Itu yang sekarang banyak kita lihat,” katanya.

‎Baginya, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, tetapi juga persoalan moral dan kesadaran manusia. Ketika alam rusak, maka kehidupan makhluk lain ikut terancam.

‎Ikan mati karena air tercemar, satwa kehilangan habitat akibat hutan gundul. Bahkan manusia sendiri akhirnya merasakan dampaknya melalui banjir, cuaca ekstrem hingga suhu bumi yang semakin panas.

‎Ia menilai, fenomena perubahan iklim dan musim yang tidak menentu saat ini menjadi bukti bahwa bumi sedang menghadapi tekanan besar akibat perilaku manusia yang abai terhadap lingkungan.

‎Di tengah kondisi itu, Islam justru mengajarkan hubungan yang penuh kasih antara manusia dan alam. Salah satunya melalui anjuran menanam pohon.

‎Widiantoro mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa setiap tanaman yang dimakan manusia, hewan maupun burung akan menjadi sedekah bagi orang yang menanamnya. Sebuah ajaran sederhana, namun memiliki makna yang dalam.

‎Menanam pohon bukan hanya tentang menghijaukan tanah, tetapi juga tentang menghadirkan kehidupan. Akar pohon menjaga air tetap tersimpan di dalam tanah, daunnya menghasilkan udara segar, serta buahnya memberi makan manusia dan makhluk lain. “Menjaga lingkungan itu bukan hanya urusan sosial. Itu juga bagian dari ibadah dan amal kebaikan,” tuturnya.

‎Ia berharap kesadaran menjaga alam tidak berhenti pada slogan semata. Menurutnya, langkah kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga sungai, melakukan penghijauan hingga memanfaatkan sumber daya alam secara bijak harus menjadi kebiasaan bersama.

‎Sebab bumi bukan hanya tempat hidup manusia hari ini, tetapi juga warisan untuk generasi yang akan datang. Dan mungkin, dari sebatang pohon yang ditanam dengan tulus, manusia sebenarnya sedang belajar bagaimana cara menjaga kehidupan tetap tumbuh. (pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *