Film Tanah Dayak Tuai Dukungan dan Harapan dari DAD Kotim
Di sebuah daerah yang pernah tercatat dalam lembaran sejarah kelam Indonesia, geliat baru justru muncul dari dunia perfilman. Tragedi Sampit 2001 yang selama ini lebih sering dikenang dalam sunyi dan luka, kini mulai didekati dari sudut yang berbeda yakni layar lebar.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
FILM Tanah Dayak adalah sebuah proyek yang saat ini tengah digarap oleh rumah produksi Borneo Picture, yang mencoba merangkai kembali fragmen masa lalu dengan balutan nuansa horor. Bukan sekadar menakut-nakuti, film ini diharapkan menjadi jembatan antara ingatan, budaya, dan kemanusiaan.
Di tengah rencana produksi itu, dukungan pun mengalir dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Namun dukungan itu bukan tanpa syarat. Ada pesan yang terselip kuat, dimana kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari identitas dan sejarah yang harus diperlakukan dengan hormat.
Ketua Harian DAD Kotim Gahara menuturkan, ketertarikan sineas mengangkat Kalimantan Tengah ke layar lebar adalah angin segar. Namun, ia menekankan pentingnya pijakan yang kokoh yaitu fakta sejarah dan suara mereka yang pernah mengalami langsung peristiwa tersebut.
“Kalau hanya horor, mungkin mudah. Tapi ini tentang sejarah dan budaya. Harus ada keseimbangan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Bagi Gahara, film bukan sekadar medium hiburan. Ia adalah ruang hidup bagi cerita-cerita yang selama ini tersembunyi. Karena itu, ia berharap Tanah Dayak tidak berjalan dalam satu warna.
Di benaknya, film yang baik adalah film yang “bernapas”. Ada ketegangan, tetapi juga kehangatan. Ada misteri, namun tetap menyisakan ruang bagi tawa dan cinta. “Harus ada horor, tapi juga ada sisi manusiawinya. Bahkan kalau bisa ada humor dan romantisnya. Film itu harus hidup, tidak kaku,” katanya.
Ia kemudian menyinggung keberhasilan film Kuyang yang sempat viral secara nasional. Menurutnya, kekuatan film tersebut bukan semata pada unsur mistis, melainkan pada keberhasilannya menampilkan budaya lokal secara alami, dari tradisi hingga keseharian masyarakat.
Dari sana, ada pelajaran penting dimana horor bisa menjadi pintu masuk, tetapi budaya adalah jiwa yang membuatnya bertahan.
Lebih dari sekadar film, Tanah Dayak menyimpan harapan yang lebih luas. Ia membuka kemungkinan baru bagi Kalimantan Tengah untuk dikenali melalui pendekatan yang lebih halus, bukan lewat konflik melainkan lewat cerita.
Bagi masyarakat lokal, keterlibatan aktor dan aktris daerah menjadi kebanggaan tersendiri. Ada rasa memiliki yang tumbuh, seiring dengan kesempatan untuk terlibat langsung dalam industri kreatif yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.
“Kalau ada putra-putri daerah kita yang jadi pemeran dalam film Tanah Dayak, tentu akan menjadi kebanggaan kita bersama,” ucap Gahara.
Di titik inilah film menjelma lebih dari sekadar tontonan. Ia menjadi ruang partisipasi, sekaligus panggung untuk menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah memiliki cerita yang layak didengar.
Namun di balik optimisme itu, terselip tanggung jawab besar. Mengangkat tragedi ke layar lebar bukan perkara mudah. Ada batas tipis antara mengingat dan mengeksploitasi.
Karena itu, DAD Kotim menegaskan komitmennya untuk mendukung sepenuhnya dalam pembuatan film tersebut, selama prosesnya dijalankan dengan keseriusan, kepekaan, dan tanggung jawab. “Silakan dibuat, kami sangat mendukung. Tapi harus digarap dengan serius dan penuh tanggung jawab,” tegas Gahara.
Kini, Tanah Dayak masih dalam tahap penggarapan. Namun gaungnya sudah mulai terasa bukan hanya sebagai film horor, tetapi sebagai upaya merangkul kembali sejarah melalui cara yang lebih manusiawi.
Di tengah gelapnya cerita masa lalu, mungkin inilah cahaya kecil yang perlahan menyala dari sebuah harapan bahwa luka bisa dikenang tanpa harus dilupakan, dan budaya bisa diceritakan tanpa kehilangan maknanya.
Jika berhasil, film ini bukan hanya akan hidup di bioskop-bioskop Indonesia, tetapi juga di ingatan banyak orang, khususnya di Indonesia sebagai kisah tentang keberanian untuk bercerita, dan kebijaksanaan untuk tetap menghormati. (pri)












