Utama

Anggota Dewan Mengutuk Keras Menu MBG

785
×

Anggota Dewan Mengutuk Keras Menu MBG

Sebarkan artikel ini
MENU MBG : Salah satu menu program makan bergizi gratis (MBG) Rabu (4/3/2026) dari SPPG Jekan Raya Palangka 2 untuk Posyandu Sakan Sehat dan TK Permata Hati-II. FOTO WARGA UNTUK RADAR KALTENG

Sebut Sebagian Menu Seperti Racun

PALANGKA RAYA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya Khemal Nasery mengutuk keras penyajian menu program makan bergizi gratis (MBG) yang diberikan kepada anak-anak di kota ini.

Menurut Khemal, menu MBG yang saat ini beredar justru tidak memenuhi standar gizi anak pada masa pertumbuhan.

Karena didominasi kerupuk, keripik tempe, peyek, tahu goreng, pentol, sosis, nugget, serta tepung-tepungan digoreng. Sementara sayuran dan serat hampir tidak ada.

“Heran lah kenapa selalu ada keripik di menu MBG. Saya lihat ada keripik tempe. Saya tanya keripik tempe itu untuk apa? Coba keripik dan kerupuk itu dibuang dan jangan dihadirkan lagi. Itu jelas-jelas makanan banyak mengandung minyak. Menurut saya ini racun yang diberikan kepada anak-anak. Tidak ada nilai gizinya,” tegas Khemal Nasery kepada Radar Kalteng, Jumat (6/3/2026).

Khemal Nasery, Anggota DPRD Palangka Raya.

Khemal menambahkan, pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palangka Raya selama ini tidak optimal. Banyak dapur SPPG yang dinilai bekerja sendiri-sendiri, tanpa koordinasi dengan ahli gizi.

“Ahli gizi dan akuntan harus diberdayakan. Siapa tahu kepala SPPG-nya tidak bisa berhitung, manfaatkan tenaga ahli yang ada agar mereka kerja dan jangan makan gaji buta. Kalau struktur dan yang bekerja tidak sinkron, artinya masing-masing kerja sendiri, dapur kerja sendiri, anak-anak yang dirugikan,” kritik Khemal.

Selain itu, Khemal menyoroti kandungan makanan MBG yang tinggi sodium dan lemak jenuh. Menu seperti pentol, bakso, sosis, nugget, gorengan, dan keripik, dikombinasikan dengan minuman kemasan, menurut Khemal dapat meningkatkan risiko diabetes, gagal ginjal, dan masalah kesehatan lain pada anak-anak.

“Di posyandu dan TK, masa pertumbuhan anak sangat penting. Menu seperti ini justru merusak anak-anak. Anak-anak harus memperoleh gizi lengkap dengan protein, vitamin, dan serat, bukan makanan olahan penuh minyak,” tegasnya.

Anggota dewan dari Partai Golkar itu juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Ia minta agar Gubernur Kalteng Agustiar Sabran memerintahkan seluruh SPPG di provinsi ini untuk mencantumkan nilai gizi dan harga setiap menu MBG.

“BGN di Palangka Raya sebaiknya mengikuti saran Sultan Yogyakarta agar semua menu menyertakan nilai gizi dan harga, memastikan anak-anak mendapatkan makanan sehat sesuai anggaran Rp 10.000,” tegasnya.

Khemal menyerukan agar orang tua dan sekolah aktif memantau menu MBG. “Saya minta sekolah dan orang tua update serta memviralkan setiap menu yang dibagikan SPPG. Semua harus jelas, termasuk nama penyedia dan sekolahnya, agar ada data yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Khemal.

Dalam pandangan Khemal, pemberdayaan tenaga ahli gizi dan akuntansi di SPPG sangat penting. “Kalau ahli gizi tidak diberdayakan, fungsi mereka sia-sia. Sama dengan ahli akuntansi, mereka harus bisa menghitung dan menentukan nilai rupiah setiap menu. Ini demi anak-anak kita dan masa depan mereka,” tambahnya.

Kritik keras Khemal ini datang di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya gizi anak di usia dini. Anggota dewan ini menegaskan, evaluasi dan pengawasan ketat terhadap kontrak kerja sama MBG harus dilakukan, agar anak-anak di Palangka Raya tidak menerima makanan yang membahayakan kesehatan mereka.

“Kita harus perbaiki sistem ini segera. Jangan sampai program yang seharusnya bermanfaat bagi anak-anak justru menjadi sumber masalah kesehatan. Anak-anak kita pantas mendapatkan yang terbaik,” pungkas Khemal. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *