DPRD Kalimantan Tengah

Warga Kalteng Disebut Normal, Padahal Menjerit

28
×

Warga Kalteng Disebut Normal, Padahal Menjerit

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi I DPRD Kalteng Purdiono. BUDHI SEPRATAMA PUTRA//RADAR KALTENG

‎‎PALANGKA RAYA –  Anggota DPRD Kalteng Purdiono menyayangkan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto kepada Presiden Prabowo bahwa masyarakat Kalteng berjalan normal di tengah kabut asap akibat karhutla.

‎Suharyanto mengatakan aktivitas masyarakat seperti lalu lintas, toko dan rumah makan masih berjalan. “Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi lalu lintas, toko-toko, rumah makan dan lain sebagainya juga biasa, Bapak Presiden, tidak ada yang terganggu,” kata Suharyanto.

‎‎Meski demikian, Suharyanto juga mengakui adanya gangguan terhadap akses keluar-masuk wilayah Kalteng dan Kalimantan Barat, terutama transportasi udara. Kabut asap yang cukup tebal juga disebut menghambat penerbangan komersial maupun operasi udara penanganan karhutla.

‎‎“Hanya memang untuk keluar masuk khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini yang sedikit terganggu,” ujarnya.

‎‎Menanggapi hal tersebut, Purdiono mengatakan ukuran kondisi normal di tengah karhutla tidak cukup hanya melihat aktivitas lalu lintas maupun kegiatan ekonomi yang masih berlangsung.

‎‎“Kalau dikatakan masyarakat hidup normal, ya tentu saja ada ukurannya, kenapa kita masih beraktivitas karena kita ingin hidup.” katanya, saat di temui di ruang kerja komisi, Jumat (25/9).

‎‎Menurutnya, pemerintah perlu melihat secara menyeluruh dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat. Ia menyoroti kondisi lahan pertanian yang ikut terdampak akibat kekeringan dan keterbatasan air.

‎‎“Belum lagi lahan-lahan pertanian yang kering. Karena tidak ada air. Sebetulnya warga Kalteng pada menjerit,” ujarnya.

‎‎Purdiono menilai kondisi tersebut justru menunjukkan adanya persoalan yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, kondisi masyarakat di lapangan tidak bisa hanya diukur dari masih berjalannya aktivitas ekonomi sehari-hari.

‎‎“Menurut saya itu justru bertolak belakang dengan keadaan yang dikatakan normal,” tegasnya.

‎‎Ia meminta kondisi masyarakat di berbagai daerah di Kalteng benar-benar dilihat dan didengarkan, terutama mereka yang terdampak langsung karhutla dan kekeringan.

‎‎“Saya menolak kalau dikatakan berjalan normal, kasihan masyarakat menjerit,” pungkas Purdiono.(sep/*)

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *