Kotawaringin Timur

Halikinnor Sebut Karhutla Tahun Ini Cukup Parah

22
×

Halikinnor Sebut Karhutla Tahun Ini Cukup Parah

Sebarkan artikel ini
MENINJAU : Bupati Kotim Halikinnor turun ke lapangan melihat langsung petugasnya saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kota Sampit, Sabtu (26/9/2026). FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Sumber Air hingga Armada Jadi Kendala Pemadaman di Lapangan

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sepanjang musim kemarau tahun ini dinilai cukup berat. Selain kondisi lahan yang cepat kering, sejumlah sumber air yang biasanya menjadi andalan petugas untuk memadamkan api ikut menyusut, bahkan mengering.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla tahun 2026. Cuaca panas yang cukup lama membuat embung, parit, hingga sumber air di sejumlah lokasi tidak lagi bisa diandalkan.

“Ini termasuk yang parah tahun ini. Karena panasnya cukup lama dan langsung kering. Biasanya embung-embung di parit atau sulukan masih ada air. Sekarang langsung kering. Kita juga membuat sumur, tetapi cukup sulit mencari airnya,” kata Halikinnor, Sabtu (26/9/2026).

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi catatan penting bagi Pemkab Kotim menghadapi musim kemarau tahun-tahun selanjutnya. Pemerintah berencana memperkuat ketersediaan sumber air. Terutama di wilayah yang selama ini rawan karhutla. “Ke depan sumur-sumur yang betul-betul dalam harus dipelihara. Kemudian dibangun permanen, disemen dan dipagar supaya tetap terjaga. Beberapa titik, khususnya di kawasan sekitar bandara, juga harus kita amankan,” ungkapnya.

Pemerintah juga akan memetakan lahan-lahan berpotensi menjadi titik rawan penyebaran api. Halikinnor minta para camat dan lurah menginventarisasi lahan yang dipenuhi semak belukar, termasuk lahan milik masyarakat yang tidak terawat. Pemilik lahan diminta tidak lepas tangan terhadap kondisi lahannya, terutama memasuki musim kemarau.

“Jangan hanya menikmati tanahnya, tetapi harus ada tanggung jawab sosial. Kalau memasuki musim kemarau, lahannya harus bersih dan dijaga. Kalau memungkinkan, harus ada sumur atau embung portable,” tegasnya.

Menurutnya, lahan yang dipenuhi semak dan tidak terawat akan lebih mudah terbakar ketika kondisi kering. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul dan meluas.

Selain persoalan sumber air, keterbatasan armada pemadam juga menjadi evaluasi Pemkab Kotim. Halikinnor mengakui jumlah personel yang tersedia sebenarnya cukup, namun belum seluruhnya ditunjang kendaraan dan peralatan yang memadai.

Kondisi tersebut membuat penguatan sarana dan prasarana penanganan karhutla menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dipersiapkan sejak jauh hari. Pemerintah tidak ingin kembali kewalahan apabila musim kemarau berikutnya kembali berlangsung panjang dan kering.

“Ke depan kita harus mengantisipasi jauh-jauh hari. Walaupun tahun depan misalnya tidak kemarau seperti ini, paling tidak kita sudah siap menghadapi kemarau apabila kondisi seperti ini kembali terjadi,” pungkas Halikinnor. (pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *