Kalimantan Tengah

Bara Gambut Masih Berasap, Satgas Siaga 24 Jam

77
×

Bara Gambut Masih Berasap, Satgas Siaga 24 Jam

Sebarkan artikel ini
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan.

PALANGKA RAYA – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum berakhir. Meski titik api hampir seluruhnya dikendalikan, petugas masih harus melakukan pembasahan untuk memastikan bara di bawah permukaan lahan gambut tidak kembali memicu kebakaran.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan, kabut asap masih dirasakan, terutama di Kota Palangka Raya. Polda Kalteng bersama satgas karhutla terus memantau titik-titik yang berpotensi menimbulkan api maupun asap.

Hal itu disampaikannya dalam dialog PrimeTime News bertajuk “Stop Karhutla Kalteng, Cegah dan Tangani Bersama” melalui Zoom, Selasa (22/9/2026).

“Untuk sementara perlu kami informasikan bahwa titik api hampir bisa kita padamkan. Tinggal saat ini yang kita lakukan adalah melakukan pembasahan karena ini adalah lahan gambut,” katanya.

Karakter lahan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar telah tuntas. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan terus menghasilkan asap meski api di atasnya sudah tidak terlihat.

“Walaupun api di atas sudah padam, masih ada api-api yang ada di bawah dan itu cukup banyak menghasilkan asap yang bisa berdampak kurang baik untuk kesehatan dan juga situasi lingkungan,” jelasnya.

Untuk memastikan penanganan berjalan maksimal, satgas karhutla di Kalteng melibatkan berbagai unsur. Mulai TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah hingga masyarakat, seluruhnya bekerja sesuai pembagian tugas di tingkat provinsi maupun kabupaten. Petugas juga disiagakan 24 jam dengan sistem pembagian shift.

“Intinya, satgas yang sudah dibentuk di Provinsi Kalimantan Tengah ini bekerja bersama, bersinergi, berkolaborasi, dan sudah dibagi semua tugas-tugasnya, dan bekerja selama 24 jam,” ungkapnya.

Kapolda menilai, pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam menekan kejadian karhutla. Bhabinkamtibmas, babinsa, kepala desa dan unsur terkait terus dilibatkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Namun edukasi tersebut perlu disertai solusi agar masyarakat memiliki pilihan lain dalam mengolah lahan.

Ke depan, langkah antisipasi juga diarahkan pada penguatan infrastruktur di lokasi rawan, seperti kanal, embung, sumur bor hingga menara pemantau.

Selain itu, pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat membantu masyarakat menemukan metode pembukaan lahan yang lebih aman tanpa menggunakan api. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *