Prastyo Ramadhan, Siswa MAN Kotim Berprestasi di Tingkat Nasional
Langit malam menyimpan jutaan benda langit yang terus bergerak dalam lintasan masing-masing. Bagi sebagian orang, gugusan bintang hanya menjadi pemandangan yang indah ketika dipandang dari bumi. Namun bagi Prastyo Ramadhan, langit adalah sesuatu yang ingin dipahami.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
DARI bangku Kelas XII MAN Kotawaringin Timur Plus Keterampilan, siswa ini menekuni astronomi dan menjadikannya jalan untuk menguji rasa ingin tahunya tentang alam semesta.
Jarak bumi dengan benda-benda langit yang begitu jauh tidak menyurutkan langkahnya untuk mempelajari bagaimana semuanya bergerak dan bekerja.
Ketertarikan itu membawanya jauh dari Kotim. Prastyo Ramadhan melangkah melewati satu demi satu tahapan seleksi hingga akhirnya berdiri di panggung Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMA/MA/SMK Tingkat Nasional 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Di ajang yang berlangsung 14 sampai 19 September 2026 tersebut, Prastyo berhasil meraih honorable mention bidang astronomi.
Ia menjadi salah satu pelajar Kalimantan Tengah yang mampu membawa namanya hingga ke arena kompetisi sains tingkat nasional.
Honorable mention merupakan penghargaan terhormat yang diberikan kepada seseorang atau karya dalam sebuah kompetisi.
Perjalanan menuju titik itu bukan lintasan pendek. Ada seleksi di sekolah, tingkat kabupaten/kota, provinsi, semifinal, hingga persaingan nasional yang mempertemukannya dengan para siswa berprestasi dari berbagai penjuru Indonesia.
Setiap tahapan menjadi bagian dari perjalanan yang menguji bukan hanya kemampuan akademiknya, tapi juga ketekunan, konsistensi dan keberaniannya untuk terus melangkah.
Bagi Prastyo, panggung nasional akhirnya memberinya pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar persaingan memperebutkan penghargaan.
Ia bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya hanya mungkin ia kenal melalui kompetisi, sekaligus merasakan langsung atmosfer persaingan sains di tingkat nasional.
“Perasaan yang saya dapatkan sangat menyenangkan karena saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat. Rasanya tidak siap jika harus berpisah dengan mereka,” ungkap Prastyo Ramadhan, Minggu (20/9/2026).
Di tengah persaingan yang ketat, Prastyo juga menemukan pelajaran lain. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang mampu menjawab soal paling banyak atau memperoleh penghargaan tertinggi. Ada sikap yang harus dijaga selama berada di arena kompetisi.
“Kesan yang saya dapatkan adalah suasana kompetisinya sangat kompetitif. Bagaimana kita harus tetap bersikap profesional dalam tiap waktu,” akuinya.
Guru pendamping sekaligus pembimbing OSN Astronomi Kasmawati mengatakan, perjalanan Prastyo Ramadhan hingga tingkat nasional merupakan hasil dari proses panjang.
Tahapan itu dimulai dari seleksi di sekolah, kemudian kabupaten/kota, provinsi, semifinal, hingga akhirnya mampu tampil di tingkat nasional.
“Bisa sampai sejauh ini tentu menjadi sebuah kebanggaan yang luar biasa. Terlebih lagi, Prastyo Ramadan dapat mewakili Kalteng hingga tingkat nasional. Semua perjuangan, proses, dan pengalaman yang kami lalui menjadi bagian yang sangat berharga bagi kami,” ujarnya.
Di balik pencapaian tersebut, ada banyak pihak yang ikut mengiringi langkah Prastyo. Kedua orang tua menjadi bagian penting dalam perjuangannya melalui bimbingan dan doa.
Dukungan juga datang dari Kasmawati, dewan guru, Kaur TU dan staf TU MAN Kotawaringin Timur, Kepala Madrasah Djumali, serta berbagai pihak dari pemerintah daerah dan Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur.
Persiapan Prastyo juga mendapat pendampingan dari Tim Pembina UIN Palangka Raya, khususnya Luvia Ranggi Nastiti dan Nadia Azizah dari Dosen Tadris Fisika, serta mahasiswa M Miwa Al Bukhori dan Andi Haryanto.
Kini Prastyo telah pulang dari panggung nasional membawa honorable mention. Namun penghargaan itu bukan satu-satunya hal yang ia bawa pulang.
Ada pengalaman bertemu pelajar hebat dari berbagai daerah, pelajaran tentang profesionalisme, serta keyakinan baru bahwa kesempatan untuk bersaing di tingkat nasional tidak hanya milik mereka yang belajar di kota-kota besar.
Dari Kotim, Prastyo Ramadhan telah membuktikannya. Langit yang ia pelajari memang terbentang sangat luas. Dan di bawah langit yang sama, ia kini memiliki ruang yang lebih luas pula untuk mengejar mimpi. (ifa/ens)












