Budaya Bisa Membawa Pesan Keselamatan di Jalan
Perjalanan Ribka Bawin Hatalasinta Lumamba tidak berhenti pada pencapaian tersebut. Ajang nasional itu justru mempertemukannya dengan pelajar pelopor dari berbagai provinsi yang membawa gagasan dan pendekatan berbeda dalam menyuarakan tentang keselamatan berlalu lintas di jalan raya.
DARI Juara 1 Kategori Sosial Budaya pada Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Tingkat Nasional 2026 itu, ada cerita lain yang dibawa siswi SMAN 1 Basarang, Kabupaten Kapuas itu ke Kalimantan Tengah.
“Setiap daerah membawa cerita, budaya, dan inovasi yang berbeda. Dari sana saya mendapat banyak sudut pandang baru dan semakin menyadari bahwa setiap daerah memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan pesan keselamatan,” ujar Ribka.
Pengalaman tersebut membuat Ribka melihat bahwa pesan keselamatan lalu lintas memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Tidak selalu harus disampaikan dengan pendekatan yang sama. Sebab setiap daerah memiliki kekayaan budaya dan karakter masyarakat yang dapat menjadi bagian dari strategi edukasi.
Bagi pelajar asal Basarang itu, penggunaan unsur budaya juga menjadi cara untuk membuat pesan keselamatan terasa lebih dekat. Talawang yang merupakan bagian dari identitas budaya Dayak kemudian ditempatkan dalam konteks baru sebagai sarana menyampaikan pesan perlindungan dan keselamatan di jalan.
“Meraih Juara 1 Kategori Sosial Budaya melalui inovasi Talawang tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi saya. Namun lebih dari hasil tersebut, saya bersyukur mendapatkan pengalaman, pembelajaran, dan relasi baru yang akan saya bawa ke perjalanan berikutnya,” akuinya.
Karya Ribka sendiri dikembangkan dalam tema besar “Inovasi Teknologi dan Etika Transportasi sebagai Manifestasi Keselamatan Jalan di Era Digital”.
Tema tersebut mencakup pengembangan teknologi keselamatan LLAJ, kampanye dan gamifikasi atau game edukasi keselamatan untuk membentuk karakter pengguna jalan yang beretika, hingga pengembangan fitur keselamatan pada kendaraan bermotor.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan cara generasi muda menerima informasi, pendekatan edukasi menjadi tantangan tersendiri. Ribka mencoba menunjukkan bahwa teknologi dan kreativitas dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai budaya lokal.
Apa yang dibawanya juga menunjukkan bahwa edukasi keselamatan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Lingkungan sekitar dan identitas budaya dapat menjadi sumber gagasan untuk menyampaikan pesan yang memiliki dampak lebih luas.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Tengah Yulindra Dedy mengapresiasi perjuangan Ribka bersama pelajar lainnya yang mewakili Kalteng dalam ajang tersebut.
Menurut Yulindra, keterlibatan generasi muda dalam menyuarakan keselamatan berlalu lintas merupakan bagian penting dalam membangun budaya keselamatan sejak dini. “Kami memberikan dukungan dan apresiasi kepada Rasya dan Ribka yang telah mewakili Kalimantan Tengah dengan penuh semangat. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada sekolah, guru, orang tua, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan. Alhamdulillah, Ribka berhasil meraih juara 1 kategori sosial budaya tingkat nasional,” ujar Yulindra.
Ia berharap, pencapaian tersebut dapat menjadi pemantik bagi pelajar lainnya untuk terus melahirkan gagasan dan inovasi terkait keselamatan berlalu lintas di jalan raya.
Bagi Ribka sendiri, kemenangan tersebut bukanlah garis akhir. Justru dari panggung nasional itu, ia membawa pulang sesuatu yang lebih panjang dari sekadar sebuah penghargaan. Yakni pengalaman bahwa pesan keselamatan akan lebih kuat ketika disampaikan dengan bahasa yang dipahami generasi muda dan berangkat dari sesuatu yang mereka kenal. Dan kali ini, bahasa itu datang dari Talawang. (ifa/ens)












