PANGKALAN BUN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kobar memperkuat kesiapsiagaan tenaga kesehatan dan non-tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan selama penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penguatan tersebut dilakukan melalui pelatihan bantuan hidup dasar (BHD).
Melalui kegiatan tersebut, Dinkes dan IDI Kobar sekaligus mengevaluasi kesiapan petugas pasca adanya kejadian korban penanganan karhutla. Kepala Dinkes Kobar Hardino menegaskan, kesiapan tenaga kesehatan dan pendukung menjadi hal krusial. Mengingat petugas di lapangan yang sewaktu-waktu menghadapi kelelahan maupun paparan asap.
“Ketika petugas pemadam mengalami kelelahan yang maksimal maupun terpapar asap dalam kondisi yang berat, kita harus sudah siap dengan SOP dan prosedur yang ada,” ujarnya.
Menurut dia, kemampuan memberikan pertolongan sejak awal hingga proses rujukan masih perlu ditingkatkan agar penanganan kegawatdaruratan dapat dilakukan secara cepat. Untuk itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia akan terus dilakukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
“Kita bersama duduk di sini untuk mengevaluasi, kemudian memperbaiki SDM kita, bagaimana proses penanganan awal sampai proses rujukan. Kita akan terus membenahi diri dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas SDM, sehingga harapannya tidak ada lagi keterlambatan maupun kendala kemampuan di lapangan,” ungkapnya.
Selain itu, Dinkes Kobar mendorong pembenahan tidak berhenti pada kemampuan individu petugas. Hardino menilai, jejaring komunikasi antara petugas lapangan dan tenaga medis dengan kompetensi spesialistik juga mesti diperkuat.
“Jejaring yang kuat ini diharapkan memungkinkan petugas mendapatkan konsultasi medis lebih cepat sekaligus memperlancar keputusan rujukan ketika kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut atau kondisi kegawatdaruratan,” harapnya.
Adapun kegiatan pelatihan diikuti tenaga kesehatan dan non-tenaga kesehatan dari Dinkes Kobar, puskesmas, khususnya tim reaksi cepat (TRC), serta unsur mitra yang terlibat penanganan karhutla. Para peserta menerima materi mengenai dampak asap karhutla terhadap kesehatan paru yang disampaikan dr Rizky Nur Amalia. Sementara materi berikutnya disampaikan dr Fakhriyadi Rozi terkait bantuan hidup dasar dengan fokus pada keterampilan pertolongan awal kondisi kegawatdaruratan. (fit)












