PALANGKA RAYA – Anggota DPRD Kalteng Okki Maulana menyarankan relawan pemadaman kebakaran (Damkar) usia renta agar tidak perlu turun langsung terlibat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Okki, relawan tetap dapat dilibatkan dalam penanganan karhutla, tetapi perannya perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan kemampuan masing-masing. Mereka yang sudah berusia lanjut masih dapat berperan sebagai koordinator, trainer maupun penanggung jawab lapangan.
“Relawan yang usia renta sebaiknya tidak perlu turun langsung penanganan Karhutla. Cukup sebagai trainer atau penanggung jawab lapangan. Itu masih nggak apa-apa, Cuma untuk turun langsung jangan dulu,” katanya Senin (14/9).
Ia menilai paparan asap menjadi salah satu risiko yang harus diperhitungkan. Ia mencontohkan Ketua TSAK Mandawai yang disebutnya datang ke lokasi sebagai penanggung jawab dan mengoordinasikan anggota, bukan sebagai petugas yang melakukan pemadaman langsung.
Okki mengatakan, meski tugasnya lebih pada pengawasan dan koordinasi, paparan asap di lokasi tetap menjadi risiko kesehatan. Ia kemudian menyinggung kondisi kesehatan yang dialami Ketua TSAK tersebut hingga akhirnya meninggal dunia.
“Cuma karena memang paparan asapnya terlalu tinggi, sehingga almarhum hipertensi. Pembuluh darah di kepalanya pecah,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan keselamatan seharusnya tidak hanya menjadi perhatian bagi relawan. Masyarakat sipil yang ikut membantu pemadaman juga perlu memahami batas kemampuan tubuh dan risiko yang dihadapi ketika berada di lokasi kebakaran.
“Memang sebaiknya tidak. Saya kan pernah bersuara terkait dengan ASN di provinsi diajak turun ke lapangan langsung untuk menangani karhutla kan. Saya bilang mitigasinya harus lebih jelas. Harus dicari tahu latar belakang kesehatannya seperti apa,” tegas Okki.
Pemprov Kalteng sendiri melibatkan ribuan relawan dalam penanganan karhutla. Data resmi pemerintah daerah mencatat lebih dari 5.300 relawan dari unsur MPA, TSAK, Balakar dan Redkar ikut disiapkan dalam penanganan karhutla 2026.
Okki berharap aspek kesehatan dan keselamatan menjadi bagian penting dalam menentukan keterlibatan personel, sehingga relawan tetap dapat membantu penanganan karhutla tanpa mengabaikan risiko terhadap dirinya sendiri.(sep/*)












