Feature

Awalnya Merawat Lansia hingga Bergelut dengan Kematian

277
×

Awalnya Merawat Lansia hingga Bergelut dengan Kematian

Sebarkan artikel ini

Pengalaman Siti Aida sebagai Perias Jenazah

Ada pekerjaan yang mungkin tidak banyak diceritakan orang saat sedang makan bersama keluarga. Pekerjaan yang membuat seseorang lebih sering menerima telepon di tengah malam, membawa tas berisi perlengkapan rias, lalu masuk ke ruangan dingin dengan bau formalin yang khas. Bagi Siti Aida (38), itulah rutinitasnya selama lebih dua dekade terakhir.

RICKY THEODORUS, Palangka Raya

KETIKA banyak orang datang untuk mengucapkan selamat tinggal, Aida justru datang memastikan wajah seseorang terlihat tenang untuk terakhir kalinya.

Di Kota Palangka Raya, nama Aida sudah cukup dikenal sejumlah keluarga yang pernah kehilangan anggota keluarganya. Awalnya, perempuan kelahiran 1988 itu bukanlah perias jenazah. Ia pernah bekerja merawat lansia dan beberapa kali menemani pasien hingga mengembuskan napas terakhir.

Dari situ, Aida mulai ikut memandikan jenazah. Sekitar tahun 2005, setelah cara kerjanya yang telaten diperhatikan keluarga dan lingkungan rumah sakit, permintaan untuk membantunya pun mulai datang. Bukan hanya memandikan, tapi juga merias wajah orang yang telah meninggal.

Dua belas tahun terakhir, panggilan nyaris datang setiap hari. Dari rumah sakit, gereja, keluarga hingga panggilan langsung. Jangkauan pekerjaannya pun tidak lagi hanya Palangka Raya.

Ia pernah mendapat panggilan ke Sampit, Kapuas sampai Banjarmasin. Dalam sehari, Aida bahkan bisa menangani hingga lima jenazah, tergantung kondisi dan panggilan yang masuk.

Namun, merias jenazah tentu bukan seperti merias orang yang hendak pergi ke pesta atau menghadiri acara pernikahan. Waktu menjadi salah satu lawan terbesarnya. Aida harus berpacu dengan proses pengawetan.

Jika terlambat datang, sementara jenazah sudah terlebih dahulu disuntik formalin, tubuh bisa mengeras dan wajah semakin sulit dibentuk. Belum lagi persoalan mulut yang sulit menutup, mata yang tetap setengah terbuka atau cairan yang terus merembes.

Hal-hal itu yang kadang membuat satu wajah membutuhkan ketelitian lebih dari sekadar mengoleskan foundation dan bedak.

Pekerjaan paling menguji kemampuannya, pernah datang dari jenazah korban kecelakaan. Wajah korban saat itu mengalami kondisi yang cukup parah. Suami korban hanya memiliki satu permintaan sederhana, tetapi berat bagi Aida.

“Tolong buat istri saya tetap cantik.” Dengan berbekal foto korban semasa hidup, Aida berusaha membentuk kembali wajah menggunakan alat-alat make-up yang dimilikinya.

Pernah pula ia menerima permintaan merias korban ledakan gas dengan kulit wajah melepuh. Aida sempat ragu, tetapi akhirnya mencoba agar luka tidak terlalu terlihat ketika sang ibu dilihat anak-anaknya untuk terakhir kali.

Tidak semua pekerjaan bisa diterima. Aida tahu betul batas kemampuannya. Ada kondisi jenazah yang memang sudah sulit untuk dirias. “Kalau bisa, kita bilang bisa. Kalau enggak, ya bilang enggak,” katanya halus sambil bercerita, Kamis (10/9/2026) sore.

Kejujuran itu menjadi pegangan Aida. Sebab baginya, pekerjaan ini bukan sekadar menghasilkan riasan yang bagus, tetapi juga tentang tanggung jawab kepada keluarga yang tengah berduka dan memiliki harapan melihat orang tercinta dalam keadaan terbaik untuk terakhir kalinya.

Di balik pekerjaannya yang tidak biasa, Aida juga menyimpan pengalaman-pengalaman yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatannya.

Terutama ketika pekerjaan dilakukan menjelang tengah malam. Salah satunya terjadi saat ia bersama seorang perawat berada dalam kamar jenazah sebuah rumah sakit swasta di Palangka Raya.

Pintu ruangan saat itu terkunci dan keluarga tidak diperbolehkan masuk. Tiba-tiba terdengar suara ketukan, “tak, tek, tak, tek”, seperti ada seseorang yang minta pintu dibuka.

Aida dan perawat sempat mengira ada orang di luar ruangan. Pintu pun dibuka. Namun lorong di depan kamar jenazah kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Setelah dicek, keluarga jenazah ternyata berada cukup jauh dari lokasi. “Padahal pintunya jelas-jelas terkunci. Kami buka karena mendengar suara ketukan, ternyata tidak ada siapa-siapa,” jelasnya.

Pengalaman lain juga pernah datang dalam bentuk listrik yang tiba-tiba padam, suara petir sangat keras hingga perasaan seperti ada sesuatu yang melintas saat ia pulang setelah menyelesaikan pekerjaan.

Anehnya, pengalaman-pengalaman itu tidak membuat Aida memilih berhenti. Ia justru semakin percaya bahwa pekerjaannya harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghormatan.

Sebelum mulai memandikan atau merias, ia selalu menyampaikan permisi. Setelah selesai, ia juga meminta maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Bahkan sebelum meninggalkan ruangan, Aida memiliki kalimat yang selalu diucapkannya. 

“Mungkin selama saya merias, sudah beribu-ribu maaf saya ucapkan sambil merias. Kalau ada yang janggal, saya selalu bilang, jangan ikuti kami,” katanya.

Kini Aida tidak lagi bekerja sendirian. Kondisi tubuh yang mulai merasakan lelah setelah bertahun-tahun menerima panggilan dan kebiasaan lupa makan membuat adik kandungnya ikut membantu.

Meski begitu, sang adik memiliki batas tersendiri, terutama ketika harus menangani jenazah bayi karena tidak tega. Aida pun mengaku tidak selalu berbicara soal tarif. Ada keluarga yang datang dari kampung dan tidak memiliki cukup uang.

Dalam kondisi tertentu, ia tetap membantu karena baginya, wajah seseorang tetap pantas diperlakukan dengan baik, bahkan ketika pemiliknya sudah tidak bisa lagi memilih bagaimana ia ingin terlihat.

Dua puluh tahun lebih bergelut dengan kematian membuat Aida belajar banyak hal tentang hidup. Ia pernah dibayar mulai Rp700 ribu untuk merias satu jenazah, pernah pula bekerja tanpa berharap imbalan.

Satu wajah bisa selesai sekitar setengah jam, tetapi pengalaman yang dibawanya pulang jauh lebih panjang.

Dari ruang jenazah yang dingin, bau formalin, panggilan tengah malam hingga suara ketukan yang tak diketahui asalnya, Aida menemukan arti ikhlas dengan caranya sendiri.

“Ikhlas itu ternyata rasanya kayak senang. Ada kebahagiaan tersendiri kalau bisa bantu orang,” pungkasnya. (ter)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *