DPRD Kalimantan Tengah

‎Kondisi Geografis Pembuatan Sumur Bor Kurang Efektif

47
×

‎Kondisi Geografis Pembuatan Sumur Bor Kurang Efektif

Sebarkan artikel ini
‎FOTO : Ketua DPRD Kalteng, Arton S Dohong FOTO: BUDHI SEPRATAMA PUTRA//RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Persoalan air bersih menjadi salah satu aspirasi masyarakat yang disampaikan ke Ketua DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Arton S. Dohong saat  reses di Kabupaten Gunung Mas dan Katingan.

‎Arton mengatakan kebutuhan air bersih disampaikan masyarakat di sejumlah wilayah selama pelaksanaan reses. Kondisi geografis daerah menjadi salah satu pertimbangan karena pembangunan sumur bor di beberapa lokasi justru berisiko tidak menghasilkan sumber air yang dapat diandalkan.

‎

‎“Khusus untuk di Gunung Mas itu, kita tidak terlalu bisa berharap kalau masalah sumur bor. Karena pembuatan sumur bor itu, banyak yang mengalami kegagalan akibat kondisi geografisnya kurang mendukung,” katanya, Kamis (10/9).

‎

‎Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Gunung Mas, tetapi juga menjadi persoalan di Katingan. Struktur wilayah yang berada di dataran tinggi serta kondisi tanah berbatu membuat pencarian sumber air melalui sumur bor tidak selalu berhasil.

‎

‎Arton menjelaskan, sumber air di sejumlah wilayah relatif berada pada lapisan tertentu. Ketika musim kemarau datang, ketersediaan air tersebut semakin berkurang sehingga sumur bor yang sebelumnya bisa digunakan belum tentu mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

‎

‎Dalam pertemuan dengan masyarakat, ia meminta agar pemerintah dan desa terlebih dahulu memetakan sumber air yang benar-benar tersedia. Salah satu alternatif yang dibahas adalah memanfaatkan sumber air dari sungai yang masih memiliki debit meski musim kemarau.

‎

‎“Sebagian desa mengatakan ada sumber air disungai yang masih bisa diambil dimusin kemarau ini,” ujarnya.

‎

‎Arton menegaskan setiap usulan masyarakat akan dibawa melalui pokok-pokok pikiran anggota DPRD dengan mempertimbangkan skala prioritas. Menurutnya, keterbatasan kemampuan anggaran membuat seluruh aspirasi tidak dapat langsung diakomodasi sekaligus.

‎

‎“Kita selalu menyarankan mana yang paling prioritas dulu. Mana yang paling prioritas, yang dibutuhkan mendesak oleh masyarakat,” tegasnya.

‎

‎Ia berharap penyediaan air bersih di daerah benar-benar didasarkan pada kondisi geografis dan sumber air setempat. Dengan demikian, program yang dijalankan tidak hanya menyelesaikan persoalan sementara, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.(sep/*)

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *