PANGKALAN BUN – Kobaran api karhutla menyala di area lahan Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama KM 14-15 dan KM 20, Jumat (11/9/2026).
Dari terang ke petang, petugas berjibaku mencegah kebakaran semakin meluas.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Samuel mengatakan, titik api di sekitar kawasan tersebut masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
Penanganan pun berlangsung pada hari berikutnya, demi memastikan api benar-benar dapat dikendalikan.
“Luasan yang terbakar lebih dari 50 hektare. Di KM 14-15 tadi malam belum padam total. Di KM 20 juga masih dalam penanganan. Petugas terus melakukan pemadaman dan pemantauan di titik-titik api,” ujarnya, Sabtu (12/9/2026) pagi.
Khusus di KM 20-21, keberadaan api menyita kekhawatiran lebih, lantaran lokasinya berdekatan dengan kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Komunitas Karya Masoraian.
Di kawasan terjaga ini terdapat habitat beragam satwa liar sehingga petugas berupaya keras memutus sebaran api agar tidak merambat masuk.
Kebakaran di KM 20 bahkan juga berada tidak jauh dari badan jalan. Samuel mengutarakan, meskipun sumber air tersedia, salah satu tantangan yang dihadapi petugas adalah kondisi medan.
“Kawasan ini memiliki sedikitnya 73 satwa liar, termasuk orangutan dan uwa-uwa. Jika tidak cepat dipadamkan, tentunya akan berdampak langsung bagi kehidupan yang ada di dalamnya,” ungkap Samuel.
Kebakaran di KM 20 bahkan juga berada tidak jauh dari badan jalan dan mengganggu kelancaran pengendara yang melintas.
Samuel mengutarakan, meskipun sumber air tersedia, salah satu tantangan petugas adalah kondisi medan.
“Sumber air tersedia dari bekas embung atau galian. Namun untuk menjangkau bagian kawasan yang lebih dalam terkendala karena jarak antara sumber air dan titik api cukup jauh,” jelasnya.
Di samping itu, penanganan karhutla kali ini menghadapi risiko personel di lapangan. Dua anggota Satgas dilaporkan mengalami gangguan kesehatan darurat saat proses pemadaman.
Samuel menegaskan bahwa, Posko Kesehatan telah dilengkapi tenaga medis dan tabung oksigen untuk memberikan penanganan cepat bagi personel yang terpapar asap dan kelelahan fisik.
“Ada dua personel satgas yang telah dievakuasi ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan medis. Kondisi keduanya kini sudah berangsur stabil,” terang Samuel.
Karhutla di jalur Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama ini bukan kali pertama terjadi.
Sepanjang September 2026 hingga Jumat (11/9), BPBD Kobar telah melakukan 13 kali penanganan karhutla di sepanjang jalan lintas kabupaten tersebut. Titik penanganan tersebar mulai dari KM 8, KM 13, KM 14, KM 15, KM 16, KM 17, KM 18, KM 19 hingga KM 20.
Jika dihitung sejak puncak kemarau pada Agustus hingga September, total luasan lahan yang terbakar berdasarkan pembaruan laporan BPBD Kobar mencapai kurang lebih 449,68 hektare dan 29 kali kegiatan penanganan.
Api pertama kali dilaporkan muncul di KM 13 Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, pada Selasa (11/8/2026).
Wilayah Mendawai Seberang dan Kotawaringin Hilir, khususnya di sepanjang Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama terpantau sebagai kawasan yang mendominasi luasan lahan terbakar.
Adapun titik karhutla di KM 14-15 terbagi dalam dua sektor dari arah Pangkalan Bun. Sisi kiri masuk wilayah administrasi Mendawai Seberang, sedangkan sisi kanan masuk wilayah Raja Seberang. Sementara di KM 20, kebakaran berada di wilayah Kelurahan Kotawaringin Hilir, Kecamatan Kotawaringin Lama. (fit)












